Independennews.com | Tapanuli Utara – Pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Tapanuli Utara (Taput) nomor urut 1, Satika Simamora dan Sarlandy Hutabarat, hadir dengan slogan “Berkarya dan Berkelanjutan” dalam Pilkada Taput 2024.
Namun, slogan itu menuai kritik karena dianggap tidak sejalan dengan kenyataan di lapangan.
Slogan tersebut didasari oleh hubungan keduanya dengan kepemimpinan Nikson Nababan, Bupati Taput dua periode (2014–2024).
Sarlandy Hutabarat sebelumnya menjabat Wakil Bupati di periode kedua, sementara Satika Simamora, yang kini mencalonkan diri sebagai Bupati, adalah istri Nikson Nababan.
Konstelasi tersebut memunculkan anggapan bahwa pasangan itu berupaya melanjutkan dinasti politik klan Nikson Nababan.
Minimnya Penjelasan Capaian Program Selama Kepemimpinan Nikson Nababan
Dalam berbagai kampanye yang terpantau di media sosial, Paslon Satika-Sarlandy tidak menjelaskan capaian program pembangunan Taput selama 10 tahun kepemimpinan Nikson Nababan.
Program besar seperti menjadikan Taput sebagai destinasi wisata, lumbung pangan, dan pengembangan SDM dinilai belum membuahkan hasil signifikan.
Alih-alih memaparkan capaian, pasangan tersebut justru menebarkan narasi yang dianggap menyesatkan.
Dalam salah satu kampanye, Satika Simamora menyebutkan bahwa kandidat lawan, pasangan Jonius Taripar Parsaoaran Hutabarat (JTP) dan Denny Simamora (DENS), akan menghapus program Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) jika terpilih.
“Didok muse PPPK akan dihapuskan molo monang si Satika, program lansia juga dihapuskan,” ujar Satika dalam sebuah orasi di depan masyarakat Taput.
Namun, tudingan tersebut dibantah tegas oleh Paslon JTP-DENS.
“Kami tidak pernah berniat menghapus PPPK, sebab itu adalah program pemerintah pusat,” kata Jonius Taripar Parsaoaran Hutabarat dalam pernyataannya.
Narasi Tidak Berdasar Soal Anggaran Pemerintah Pusat
Satika Simamora juga menyebutkan bahwa jika terpilih, Nikson Nababan akan membantu menggiring anggaran dari pemerintah pusat.
Pernyataan itu dinilai tidak berdasar karena Nikson Nababan tidak lagi memiliki kapasitas sebagai pejabat pemerintah atau anggota DPR RI setelah masa jabatannya berakhir.
Hal tersebut semakin memperkuat kritik bahwa narasi tersebut hanya bertujuan untuk menyesatkan masyarakat.
Insiden Pahae Jae dan Tuduhan Tidak Terbukti
Insiden penganiayaan yang melibatkan pendukung Paslon nomor 1 terhadap simpatisan JTP-DENS di Pahae Jae pada Oktober 2024 juga menambah sorotan negatif terhadap pasangan itu.
Satika Simamora memanfaatkan insiden tersebut dengan membangun narasi bahwa ada upaya mencelakainya, bahkan membunuhnya.
Namun, klaim tersebut terbantah oleh video yang beredar di media sosial serta pernyataan Polres Taput, yang menyatakan tidak pernah menerima laporan terkait upaya pembunuhan terhadap Satika.
Slogan yang Dipertanyakan
Kritik terhadap slogan “Berkarya dan Berkelanjutan” semakin tajam karena ketidaksesuaian antara janji kampanye dan kenyataan.
Publik menilai bahwa pasangan Satika-Sarlandy belum memberikan gambaran konkret tentang kelanjutan program pembangunan yang diklaim mereka usung.
Dengan berbagai kontroversi dan kritik yang muncul, Pilkada Taput 2024 semakin menarik perhatian masyarakat.
Persaingan antara Paslon nomor urut 1 dan Paslon JTP-DENS menjadi sorotan utama dalam menentukan arah masa depan Tapanuli Utara. (Maju Simanungkalit)