IndependenNews.com – Humbahas | Persahabatan antara Bupati Tapanuli Utara (Taput), Jonius Taripar Parsaoran (JTP) Hutabarat, dengan Ketua Badan Kehormatan Dewan (BKD) Komisi E DPRD Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Pantur Banjarnahor, sepertinya bisa terbilang awet.
Pasalnya, sewaktu JTP belum menjabat sebagai Bupati Kabupaten Taput, ia sempat menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara pada 2019 silam. Meski beda partai dengan Pantur Banjarnahor, di sanalah mereka mulai menjalin kedekatan.
Dan hingga saat ini, setelah Politisi Perindo itu terpilih jadi bupati setelah memenangi kontestasi Pilkada 2024 dengan menaklukkan pesaing utamanya, Satika Simamora, JTP terlihat masih sangat dekat dengan Pantur Banjarnahor.
Berdasarkan informasi yang berhasil dikorek awak media, keakraban di antara kedua elit politik dari dua kabupaten berbeda itu tidak hanya sebatas formalitas saja.
Hal itu terbukti dari kerapnya kedua tokoh tersebut saling bertemu dan melakukan tatap muka dengan masyarakat secara bersama-sama.
JTP sendiri diketahui sudah empat kali mengunjungi kediaman Pantur Banjarnahor di Sopo Marpadot, yang berlokasi di Desa Pearung, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).
Dalam kunjungan JTP ke empat kalinya ke Sopo Marpadot, Pantur Banjarnahor berketepatan menggelar kegiatan penyebarluasan ideologi pancasila dan penguatan wawasan kebangsaan terhadap konsituennya, Sabtu (14/3/2026).
Keakraban JTP dan Pantur makin terlihat kala mereka saling bersenda gurau di sela-sela jalannya kegiatan tersebut.
JTP bahkan menyempatkan diri menyanyikan beberapa lagu saat sesi acara hiburan.
Seusai menghibur para masyarakat yang hadir di situ, JTP dan Pantur kemudian bercanda dan berfoto selfie bersama para masyarakat yang hadir.
Dalam sambutannya, JTP mengungkapkan tentang bagaimana ia menjadi sahabat dekat dari Pantur Banjarnahor.
Ia mengakui, mereka berdua memang berada di partai politik yang berbeda, tetapi itu bukan faktor penghalang keakraban mereka.
“Kami memang beda partai. Tapi kita harus tahu, partai itu bukan pemisah, melainkan hanya wadah saja dalam berkancah di politik”, tegas JTP.
JTP juga mengakui, bahwa strategi politik yang diawaki Pantur Banjarnahor terbilang unik dan berbeda dengan para anggota dewan lainnya.
Pantur dinilai lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dalam jangka panjang dan bukan memainkan politik instan.
“Semisal tadi saya lihat, di sini ada dibahas berbagai cara tentang budidaya tanaman kopi, alpukat, aren, dan lain-lain. Sebenarnya, itulah yang dibutuhkan masyarakat kita”, kata JTP.
Senada dengan JTP, Pantur Banjarnahor juga mengakui kedekatan mereka semenjak sama-sama berkiprah di dunia politik.
Menurut Pantur, pandangan politik yang ia anut, hampir serupa dengan pandangan politik yang di bawa oleh JTP.
“Sehingga persamaan pandangan politik itulah yang membuat kami semakin dekat”, ucap Pantur.
Ia menambahkan, bahwa misi politik JTP dalam hal mengubah mindset masyarakat terhadap ‘money politic’ merupakan misi politik yang luar biasa.
“Memulai kebiasaan bahwa politik itu tidak harus uang. Melainkan pendekatan-pendekatan yang lebih menyentuh terhadap keberlangsungan masa depan tiap masyarakat dengan berusaha menciptakan beberapa peluang dengan berani keluar dari zona nyaman”, imbuhnya.
Jalannya Acara Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Penguatan Wawasan Kebangsaan
Diketahui, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Fraksi PDI Perjuangan, Pantur Banjarnahor, yang juga bertugas di Komisi E, menggelar kegiatan Penyebarluasan Ideologi Pancasila dan Penguatan Wawasan Kebangsaan di Sopo Marpadot.
Kegiatan tersebut diikuti masyarakat setempat dan diisi dengan berbagai aktivitas yang mengarah pada penguatan wawasan kebangsaan, pemberdayaan masyarakat, serta kepedulian sosial.
Acara diawali dengan penanaman berbagai jenis tanaman produktif di area Sopo Marpadot. Penanaman tersebut dilakukan secara simbolis sebagai bagian dari gerakan Marpadot, sebuah inisiatif yang digagas Pantur Banjarnahor untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi pertanian secara lebih produktif.
Menurut Pantur, gerakan Marpadot diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi masyarakat agar mampu mengelola sumber daya alam secara lebih bijak dan bernilai ekonomi. Ia menilai peningkatan kesejahteraan masyarakat, terutama melalui sektor pertanian, merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan sosial sekaligus menjaga semangat kebangsaan di tingkat akar rumput.
“Nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum. Ia harus hadir dalam kerja nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Pantur.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pegiat pertanian turut dihadirkan untuk berbagi pengalaman kepada masyarakat. Pegiat kopi, Diana Sitohang, memaparkan pengalamannya dalam mengembangkan budidaya kopi sebagai komoditas unggulan di wilayah dataran tinggi.
Sementara itu, pegiat pertanian Pablo Sinaga memperkenalkan potensi budidaya alpukat jenis Hass. Ia menjelaskan bahwa alpukat Hass termasuk salah satu varietas alpukat dengan nilai ekonomi tinggi dan memiliki pasar yang luas di tingkat global.
Menurut Pablo, kondisi tanah dan iklim di wilayah Humbang Hasundutan sangat mendukung pengembangan komoditas tersebut, sehingga dapat menjadi peluang baru bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan melalui sektor pertanian.
Di sela-sela kegiatan, Pantur Banjarnahor juga menyerahkan bantuan kepada puluhan anak yatim piatu dan penyandang disabilitas di wilayah Humbang Hasundutan. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk perhatian terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan lebih.
Pantur menyampaikan bahwa ke depan Sopo Marpadot diharapkan dapat berkembang menjadi ruang pembinaan bagi anak-anak yatim piatu. Di tempat itu nantinya akan digelar berbagai kegiatan pendidikan, pelatihan, serta penguatan karakter agar mereka memiliki bekal yang cukup untuk menatap masa depan.
“Ke depan Sopo Marpadot ini diharapkan menjadi rumah bagi anak-anak yatim piatu. Kita ingin mereka memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan kemampuan,” katanya.
Bagi Pantur, penyebarluasan ideologi Pancasila tidak dapat dilepaskan dari upaya membangun kepedulian sosial, gotong royong, serta kemandirian masyarakat. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, harus terus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan seperti ini, ia berharap Pancasila tidak hanya dipahami sebagai konsep ideologis, melainkan menjadi pedoman hidup yang memperkuat persatuan, menumbuhkan solidaritas, serta membuka jalan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di tingkat desa. (Rachmat Tinton)