Usung Tema “Brotherhood” HDCI Peroleh Apresiasi Bamsoet

0
134

Jakarta, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi langkah Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) yang turut memasukan misi sosialisasi Empat Pilar MPR RI di dalam AD/ARDT organisasi.

Bamsoet juga mengapresiasi sikap HDCI yang menegaskan, bahwa HDCI merupakan anggota Keluarga Besar Ikatan Motor Indonesia (IMI), sebagaimana disampaikan Ketua Umum HDCI, Komjen Pol (Purn) Nanan Soekarna yang juga mantan Ketua Umum IMI 2011-2015 saat penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) HDCI Tahun 2021.

“Dengan segala kapasitas dan potensi yang dimiliki, HDCI telah mengambil peran sebagai duta pemersatu bangsa, duta empat pilar MPR RI. Senafas dengan kultur organisasi HDCI yang keanggotaannya bersifat inklusif dan merangkul semua golongan, tanpa membedakan latar belakang suku, agama, ras, ataupun afiliasi politik,” ujar Bamsoet saat menutup Rakernas HDCI Tahun 2021, di Jakarta, Minggu (31/01/21).

Bamsoet menjelaskan, ada pesan kuat dalam Rakernas HDCI, yang mengusung tema, ‘Brotherhood Kokohkan Persatuan Bangsa, Ciptakan Aman, Imun, dan Iman. Konsep aman mengisyaratkan kepatuhan dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Konsep imun mengamanatkan upaya menjaga imunitas tubuh.

“Sedangkan konsep iman mendekatkan kita pada dimensi mentalitas dan spiritualitas, dengan beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” ungkap Bamsoet.

Bamsoet menerangkan, beberapa kesamaan yang menyatukan anggota komunitas adalah semangat kebersamaan, jiwa solidaritas, dan penghormatan pada nilai-nilai persaudaraan (brotherhood). Menjadikan komunitas dan klub otomotif seperti HDCI sebagai bagian dari ‘Rumah Besar Kebangsaan’.

Bamsoet juga mengingatkan, sebagai bagian dari organisasi komunitas, anggota HDCI masih dihadapkan pada berbagai dinamika tantangan dalam membangun citra organisasi. Seperti pandangan atau stigma negatif masyarakat atas keberadaan klub motor besar yang ditengarai bersikap arogan di jalan.

“Kondisi tersebut terkadang diperburuk oleh insiden yang dilakukan anggota komunitas secara individual, namun terlanjur di-generalisir sebagai karakter komunal. Di satu sisi, generalisasi seperti ini tentunya tidak dapat dibenarkan. Di sisi lain, semestinya harus ada kesadaran pada setiap anggota komunitas/klub, bahwa sikap, tindakan, dan perilaku individu anggota akan dengan mudah dipandang dan dipersepsikan sebagai perilaku komunitas. Sehingga diperlukan sikap kehati-hatian dari semua anggota komunitas/klub,” jelas Bamsoet (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here