Independennews.com | Padang – Universitas Negeri Padang (UNP) kembali menunjukkan kiprahnya sebagai pusat kajian akademik yang progresif dan terbuka melalui kegiatan Bedah Buku Dalih Pembunuhan Massal karya John Roosa. Agenda ilmiah yang digagas Unit Kegiatan Wadah Pengkajian dan Pengembangan Sosial Politik (UK-WP2SOSPOL) ini digelar di Aula Ruang Serba Guna Fakultas Teknik UNP, Senin (25/9), dan berhasil menarik antusiasme mahasiswa yang ingin memahami salah satu episode paling gelap dan kontroversial dalam sejarah Indonesia: tragedi pasca-1965.
Diskusi menghadirkan Hendra Naldi, S.S., M.Hum., dosen sejarah UNP yang membawa perspektif akademik mendalam sekaligus pengalaman personal sebagai keluarga korban peristiwa yang berkaitan dengan penumpasan terhadap kelompok yang dituduh terlibat PKI. Kombinasi sudut pandang ilmiah dan pengalaman historis tersebut membuat pemaparan berjalan penuh makna dan membuka ruang refleksi kritis bagi peserta.
Hendra menjelaskan bahwa buku karya Roosa lahir dari dorongan untuk menelusuri secara lebih jernih dinamika politik, militer, dan intelijen pada masa itu.
“Roosa memulai penelitiannya karena melihat banyak kejanggalan dalam narasi resmi negara, termasuk dugaan adanya operasi politik yang kemudian diikuti pembunuhan massal terhadap mereka yang dilabeli kiri,” jelasnya.
Ia juga mengulas temuan Roosa mengenai keterlibatan intelijen dalam struktur PKI serta bagaimana rencana penjemputan para jenderal TNI AD berubah menjadi kekerasan yang memicu eskalasi nasional.
“Menurut Roosa, kelompok yang ditugasi melakukan penjemputan awalnya berorientasi pada agenda revolusi. Namun, dalam prosesnya, tiga jenderal tewas, yang kemudian memicu tindakan lanjutan dan semakin memperkeruh keadaan,” ungkap Hendra.
Lebih jauh, diskusi menyoroti kebangkitan Soeharto serta rangkaian kekerasan dan penumpasan yang terjadi setelahnya.
“Faktanya, pada 1965–1966, ratusan ribu orang di berbagai daerah meninggal akibat tindakan kelompok tertentu. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang harus dipelajari secara kritis,” tambahnya.
Kegiatan ini menjadi salah satu bukti bahwa UNP tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan formal, tetapi juga membangun ruang diskusi yang sehat, kritis, dan sensitif terhadap kompleksitas sejarah bangsa. Dengan menghadirkan perspektif akademik yang berimbang, UNP berupaya memperkuat literasi sejarah dan mendorong mahasiswa memahami konteks peristiwa secara objektif.
Di akhir sesi, Hendra memberikan pesan penting yang relevan bagi generasi muda.
“Hati-hati dalam melangkah dan menerima informasi. Kesalahan pemahaman terhadap isu sejarah dan politik dapat berdampak besar, bahkan mengancam integrasi bangsa,” ujarnya.
Melalui diskusi yang reflektif dan mendalam ini, UNP kembali menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen menghidupkan kajian sejarah, demokrasi, dan kewarganegaraan secara kritis, terbuka, dan berbasis penelitian ilmiah. (Dioni)
Tagar:
#UNP • UNPKampusBerdampak • BeritaUNP • MitraUNP