Independennews.com | Pemalang – Tradisi tahunan Sedekah Bumi kembali digelar oleh masyarakat Desa Paguyangan, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang, pada Rabu (16/7/2025). Bertempat di halaman Balai Desa, acara berlangsung khidmat dan meriah, dihadiri oleh jajaran Polsek Bantarbolang, Babinsa, tokoh masyarakat, serta ratusan warga dari seluruh RT.
Kepala Desa Paguyangan, Kasdono, menyampaikan bahwa Sedekah Bumi merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil panen yang diperoleh masyarakat.
“Tradisi ini merupakan bentuk syukur kami atas panen padi, jagung, palawija, sayur-mayur, dan buah-buahan. Selain sebagai wujud syukur, Sedekah Bumi juga menjadi perekat sosial antargenerasi di desa,” ujarnya.
Kasdono juga menekankan bahwa komoditas unggulan Desa Paguyangan adalah padi dan jagung, yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Rangkaian acara dimulai dengan ziarah ke makam empat tokoh leluhur desa: Mbah Randigunting, Mbah Putri Galung, Mbah Pesawangan, dan Damarwulan, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan spiritualitas desa.
Puncak perayaan berlangsung sejak siang dengan kegiatan ruwahan dan pagelaran wayang kulit yang menghadirkan dalang Suryadi dari Pemalang. Malam harinya, acara dilanjutkan dengan pengajian umum yang dipimpin oleh KH. Abdul Rahman dari Batang, yang menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga alam dan mempererat kebersamaan.
Ketua Panitia, Damirin, menyatakan bahwa seluruh kegiatan didanai secara swadaya oleh masyarakat dan para donatur, tanpa menggunakan anggaran pemerintah desa.
“Tahun ini dana terkumpul Rp49 juta, dan yang sudah direalisasikan sebesar Rp38 juta. Masing-masing RT mengatur iuran secara mandiri. Panitia dan pemerintah desa hanya bertugas mengoordinasikan. Ini bukti nyata semangat gotong royong warga,” ungkapnya.
Sementara itu, Dahlan, Kasi Pelayanan Desa Paguyangan, juga menyampaikan apresiasinya atas partisipasi masyarakat.
“Saya selalu semangat ikut tradisi ini. Kami membawa ambeng, natura, serta hasil bumi seperti padi dan jagung dengan sukarela. Ini bukan paksaan, tapi bentuk cinta kami pada tradisi. Semoga ke depan bisa lebih semarak dan berkelanjutan,” tuturnya.
Bagi masyarakat Desa Paguyangan, Sedekah Bumi bukan hanya ritual budaya, melainkan simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan spiritualitas yang diwariskan secara turun-temurun.
Menutup pernyataannya, Kepala Desa Kasdono berharap agar desanya senantiasa dilimpahi keberkahan.
“Semoga Desa Paguyangan tetap aman, damai, warganya sehat, hasil panen melimpah, dan dijauhkan dari bencana serta hama,” pungkasnya.
(S. Febriansyah)