Rekor Fiskal Sumatera Barat: Program Pemutihan Bapenda Pecahkan Batas, Guncang Kesadaran Pajak Rakyat!

Dari Angka Menuju Makna — Dari Kebijakan Menuju Gerakan Sosial

Independennews.com | Padang – Sejarah fiskal baru tercipta di Ranah Minang.
Dalam momentum emas peringatan 80 tahun Sumatera Barat dan 77 tahun Harian Haluan, Pemerintah Provinsi Sumbar melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) menyalakan bara perubahan: sebuah program pemutihan pajak kendaraan yang bukan hanya menggugah kesadaran publik, tetapi juga mencetak rekor pendapatan daerah.

Dalam rentang waktu tiga bulan — dari 25 Juni hingga 30 September 2025 — Bapenda Sumbar mencatat capaian luar biasa: lonjakan kepatuhan wajib pajak hingga 19 persen dan 867.335 kendaraan melakukan registrasi pajak. Angka itu melesat jauh dibanding tahun sebelumnya yang hanya 730.334 unit.
Namun, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Ia adalah denyut optimisme, tanda bahwa rakyat kembali percaya pada pemerintahnya.

Pemutihan bukan sekadar instrumen fiskal, tetapi wujud kasih negara kepada rakyatnya,” ujar Syefdinon, Kepala Bapenda Sumbar, dengan mata berbinar.
Kami ingin rakyat bisa menunaikan kewajiban tanpa dihantui denda, sementara daerah tetap kuat secara fiskal. Inilah keseimbangan yang kami perjuangkan.

Program pemutihan ini menjadi ruang napas baru bagi ribuan masyarakat menengah ke bawah.
Melalui kebijakan pembebasan 100 persen tunggakan pokok PKB (kecuali pajak tahun berjalan), penghapusan denda mutasi keluar provinsi, dan penghapusan sanksi administrasi, rakyat kembali bisa menatap masa depan tanpa beban.

Euforia terasa di seluruh kantor Samsat hingga aplikasi digital. Mereka yang dulu enggan datang kini hadir dengan senyum, bukan karena takut pada kewajiban, tetapi karena lahirnya kembali kepercayaan antara rakyat dan pemerintah.

Bagi Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, program ini bukan hanya keberhasilan fiskal, melainkan manifestasi empati sosial dalam wujud kebijakan publik.

Kita tidak sedang memburu angka, kita sedang menanam empati. Pajak bukan beban, tetapi jembatan menuju pembangunan,” tegasnya.
Dengan beban yang lebih ringan, rakyat punya ruang bernapas, daya beli meningkat, dan ekonomi nagari pun hidup kembali.

Ia menyebut kebijakan ini sebagai stimulus fiskal berjiwa sosial — denda yang dihapus bukan hanya mengurangi hutang rakyat, tetapi juga mengembalikan energi untuk menggerakkan ekonomi akar rumput.

Keberhasilan spektakuler ini juga didorong oleh revolusi layanan digital.
Melalui aplikasi Samsat Digital Nasional (SIGNAL), Bapenda Sumbar menghadirkan pelayanan tanpa antre, tanpa batas waktu, dan tanpa jarak.

Inilah wajah baru pelayanan publik,” ujar Syefdinon bangga.
Teknologi tidak lagi dingin dan kaku — kini ia punya empati: memudahkan, mendekatkan, dan menumbuhkan kepercayaan.

Transformasi digital ini meneguhkan posisi Bapenda Sumbar sebagai pelopor digitalisasi fiskal daerah di Indonesia.
Transparansi meningkat, efisiensi tumbuh, dan rakyat merasakan langsung kemudahan dalam genggaman.

Program pemutihan memang telah usai, namun semangatnya tetap hidup.
Bapenda kini berfokus pada perubahan paradigma: dari kepatuhan karena kewajiban menjadi kesadaran karena cinta daerah.

Kami tidak ingin rakyat membayar pajak karena takut, tetapi karena sadar bahwa itu bentuk cinta pada tanah kelahirannya,” tegas Syefdinon.
Setiap rupiah yang dibayarkan adalah batu bata bagi masa depan Sumatera Barat.

Melalui edukasi, sosialisasi, dan kanal digital, Bapenda memperluas jangkauan hingga pelosok nagari. Tujuannya bukan semata meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi membangun gerakan sosial kolektif — bahwa pajak adalah gotong royong modern untuk kemajuan bersama.

Di balik meja-meja sederhana Bapenda, mungkin tak terdengar gemuruh tepuk tangan.
Namun di sanalah lahir gerakan diam yang mengguncang Sumatera Barat — gerakan taat pajak yang bermula dari empati, berbuah pada kesejahteraan.

Bapenda Sumbar tidak hanya menorehkan rekor fiskal bersejarah, tetapi juga membangun kesadaran baru: bahwa kebijakan yang tulus dapat menggugah hati rakyat, memperkuat daerah, dan menulis babak baru pembangunan Indonesia.
(Dioni)

You might also like