Pergunu Depok, Potret Pendidikan ditengah Pandemi Covid-19

0
183

DEPOK, INDEPENDENNEWS.COM –Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan peringatan Hardiknas diwarnai dengan kemeriahan upacara di setiap unit kelembagaan pemerintah pusat hingga daerah, kini kegiatan-kegiatan tersebut dilarang karena pandemi virus corona.

Kemendikbud melalui surat Nomor: 42518/MPK.A/TU/2020, tertanggal 29 April 2020 yang ditandatangani oleh Mendikbud Nadiem Anwar Makarim mengeluarkan himbauan untuk tidak mengadakan peringatan Hardiknas. Hal tersebut disampaikan kepada setiap satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, kantor instansi pusat dan daerah, serta perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

Kegiatan upacara diganti dengan uapacara virtual. Diketahui, Kemendikbud melalui rilis resmi (30/4/2020) mengumumkan tema Hardiknas 2020 yakni “Belajar dari Covid-19”. Artinya, dunia pendidikan dituntut mengambil pelajaran dari kejadian ini. Guru dan murid tidak hanya dituntut untuk hidup bersih. Namun mereka juga harus adaptasi dengan perubahan pola belajar-mengajar. Belum lagi persoalan faktor pendukung lain seperti teknologi.

Menanggapi hal di atas Ketua Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Depok, Ustadz Acep Pudoli mempunyai pandangan menarik. Ia mengungkap beberapa permasalahan kondisi lapangan terkait pola pendidikan di tengah pandemi virus corona.

“Potret pendidikan di tengah pandemi Covid 19 menjadi berbeda dari tahun lalu. Tahun ini sekolah – sekolah diliburkan demi memutus rantai penyebaran virus. Kendati demikian, proses belajar-mengajar masih dituntut untuk terus berjalan. Ini poin pentingnya,” ucapnya.

Ia menambahkan, “Bagaimana proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)? Sesuai arahan pemerintah, belajar mengajar dilakukan dengan cara jarak jauh”.

“Yang paling mungkin pihak pengajar memberi Pekerjaan Rumah (PR) sesuai mata pelajaran di setiap harinya untuk tingkat sekolah dasar dan menengah pertama. Untuk tingkat di atasnya memakai media aplikasi berbasis internet,” tuturnya.

“Kelihatannya mudah”, lanjut Ustadz Acep. Kendati demikian cara di atas memiliki beberapa kendala teknis. KBM mempunyai ketergantungan terhadap smartphone dan kuota internet.

Dilain tempat, menurut Hakim Hasan, guru di SMP Lazuardi Al Falah mengungkapkan, Pembelajaran saat ini menjadi tantangan tersendiri, karena selain dituntut kreatif guru juga harus pandai teknologi, terutama dalam mengajar online agar bisa memanfaatkan aplikasi yang tersedia di internet.

“Alhamdulillah selama ini sekolah Lazuardi Al Falah sudah beberapa tahun sebelum adanya virus Corona sudah memulai aktifitas pembelajaran menggunakan beragam aplikasi yang tersedia di Google, misalnya Google Drive, yang menyajikan banyak perangkat seperti word, exal, slide dan Google Classroom yang sangat menarik dalam pembelajaran. Ujar Hakim yang juga sebagai sekretaris Pergunu Kota Depok.

Tetapi ada beberapa kelemahan dan tantangan bersama bagi guru saat ini.

“HP dan kuota harus dimiliki guru dan murid. Entah bagaimana nasib murid yang tidak mempunyai HP,” terangnya.

Dikatakannya, kendala selanjutnya, kemampuan individu memahami penggunaan Teknologi Informasi berbeda-beda. Belum lagi permasalahan pengajar harus dituntut kreatif.

“Dari Kemendikbud membantu proses pembelajaran lewat media televisi pemerintah dalam hal ini TVRI, cukup membantu, akan tetapi tetap saja kurang maksimal,” pungkasnya.

Ia juga berharap wabah virus corona ini segera berakhir dan pembelajaran kembali normal.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here