IndependenNews.com, Taput | Gempa bumi yang terjadi di Kab.Tapanuli Utara(Taput) pada sabtu(1/10/2022) dini hari mengabadikan selaksa cerita dalam benak setiap warga Taput.
Di Dusun Lumban Sigukguhi, Desa Sisordak,Kec.Parmonangan, Kab.Tapanuli Utara,Sumut ada cerita tragis sekaligus heroik dari seorang bapa demi sibuah hati saat kejadian gempa bumi.
Dituturkan Roi Manalu(44) Senin (17/10/2022) pada saat terjadinya gempa dengan magnitudo 6.0. Rumahnya yang terbuat dari konstruksi beton ambruk. Dinding yang memisahkan ruang tamu dengan kamar runtuh mengarah ke mereka.
Kendati kondisi gelap gulita karena listrik padam,akan tetapi Roi merasakan runtuhan dinding mengarah ke mereka. Spontan kedua tangannya menopang, sementara empat orang anaknya yang masih belia cuma bisa menangis.
“Saya tahan begitu,kalau tidak kami pasti mati”tutur Roi
Walau perlahan dinding beton tetap runtuh menekan kedua tanganya,Roi cuma bisa menahan dengan sekuat tenaganya dan berdoa agar secepatnya ada pertolongan. Sebab pada saat itu warga masih panik,hanya ingin menyelamatkan keluarga masing masing.
Untunglah pada saat saat genting itu,setelah sekitar 10 menit menahan ambruknya dinding beton tersebut. Tiga orang pemuda tetangganya datang membantu dan mengevakuasi Roi dan keempat anaknya.
Sekarang ini setelah situasi agak mendingan,Roi yang baru saja ditinggal mati isterinya nampak pasrah namun menyimpan kegetiran diwajahnya. Melihat reruntuhan Rumahnya yang ukuran 6m x 12m ambruk seluruhnya,tidak bisa lagi ditempati.
Meskipun begitu Roi seorang petani ini tetap semangat, dan saat ini dia mengaku telah mendapat uluran bantuan dari posko bantuan Pemkab Taput dengan 38 sak semen dan uang Rp.750.000 disamping bantuan lainnya seperti Sembako.
Sementara itu Sudihartono Purba Kepala Desa Sisordak menyebutkan Roi Manalu
adalah warga yang paling parah terdampak gempa di Kec.Parmonangan.
Sehingga saat itu Sudihartono sempat berharap,rumah Roi Manalu akan cepat ditangani gerak cepat penanganan dampak gempa seperti yang dilakukan Satpol PP,TNI dan Polisi untuk 3 rumah warga di Desa Huta tinggi.
“Saya rasa rumah dialah yang paling parah di Kec.Parmonangan, semua ambruk tidak ada yang tersisa,tidak bisa ditinggali. Dan layak mendapatkan penanganan segera. Seperti yang dilakukan Satpol PP,TNI dan Polri pada rumah yang lain”tutur Sudihartono.
Akan tetapi Sudihartono tidak menyalahkan siapapun dan tetap mengucapkan terima kasih dengan uluran bantuan dari Pemkab Taput,dan yakin akan ada perhatian dari pemerintah kedepan.
Ditempat terpisah, Tegas Manalu Kepala Desa Huta tinggi mengatakan,salah satu Desa yang mengalami kerusakan hunian paling banyak di Kec.Parmonagan adalah Desa Huta Tinggi sekitar 263 unit rumah warga diluar tempat ibadah dan fasilitas pemerintah.
Dan sampai saat ini dikatakan Tegas,penanganan kepada warga yang terdampak berjalan dengan baik.
“Sampai saat ini penanganan korban gempa sangat baik,sudah ditangani tergantung besaran kerusakan”papar Tegas.
Untuk bantuan bahan bangunan sejenis semen dijelaskan Tegas Manalu sudah tersalurkan sekitar 800 sak lebih untuk 200 unit rumah, selain bantuan uang tunai dan sembako.sedangkan untuk 63 unit lagi masih pengusulan.
Dia juga mengakui di Desa Huta Tinggi ada 3 unit rumah yang rusak parah langsung di perbaiki dan dibangun oleh dikerjakan Satpol PP,TNI dan Polri.
Senada dengan Sudihartono, Tegas juga mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kab.Taput yang dengan cepat tanggap dalam menangani warga warga yang terdampak gempa.
“Jadi kita sudah sangat berterima kasihlah kepada Pemeritah Kabupaten Tapanuli Utara yang sudah membangun tiga unit rumah yang rusak parah”pungkas Tegas Manalu
(Maju Simanungkalit)