Independennews.com | Pemalang – Di Desa Pegongsoran, tepatnya di Dukuh Pesalakan, Kabupaten Pemalang, bediri sebuah lembaga kecil yang menyala terang niat tulus dan tekad besar. Namanya TPQ Al Muqorrobbin, sebuah taman pendidikan Al-Qur’an yang lahir dari keprihatinan dan cinta seorang perempuan desa yang bernama, Kepala TPQ Ustadzah Neng Erna Setyawati. Sejak tahun 2016, ia mengelola TPQ ini nyaris tanpa sokongan bantuan dari negara bahkan Pemerintah daerah, tapi sepenuhnya dengan doa, dedikasi, dan dana pribadi.
Saat wawancara dengan awak media, pada Jumat (25/4/2025). Neng Erna Setyawati, menjelaskan, lahir dari kepedulian mendalam dari minimnya akses pendidikan Al-Qur’an di kampung halaman Neng Erna, memulai TPQ Al Muqrorrobbin ini hanya satu guru, yakni dirinya sendiri, dan tanpa ruang belajar yang memadai.
“Awal sejak TPQ Al Muqorrobbin ini berdiri, kami menggunakan motode Iqro. Namun, seiring kebutuhan peningkatnya kebutuhan pembelajaran lalu sejak Januari 2017 beralih ke motode Qiraati, karena di anggap lebih mendalam dalam pembelajaran tajwid. Sebelum mengajar guru harus mengikuti pembinaan resmi terlebih dahulu, di Desa Gombong, agar mampu mengajarkan sesuai standar bacaan yang benar,” jelas ustadzah neng Erna Setyawati.
“Dari awalnya SPP gratis, saya tidak berani menarik bayaran kwatir membebani orang tua santri. Baru tahun 2018 baru di tarik SPP Rp5.000. Lalu naik jadi Rp10.000 di 2019, Rp20.000, dan sejak Januari 2025 jadi Rp25.000 perbulan tapi tidak semua santri bisa bayar rutin, saat ini ada 150 Santri jadi kekurangannya saya bantu sendiri termasuk honor guru ngaji (bisyaroh) guru 9 orang Rp25.000 per bulan pakai uang pribadi saya,” ujar neng Erna Setyawati.
Gedung TPQ dibangun di atas tanah milik Perhutani, yang semula disangka tanah wakaf keluarga. Namun setelah proses pembangunan, barulah diketahui bahwa tanah tersebut bukan hak milik melainkan kawasan perhutanan. Akibatnya TPQ ini belum dapat berstatus elegal secara hukum wakaf, dan kesulitan mendapatkan pengakuan resmi dari Kementrian Agama atau lembaga pemerintahan lainnya.
Tak hanya status tanah, akses ke lokasi TPQ Al Muqrrobbin juga tantangan berat bagi santri. Jalan menuju TPQ hanya berupa jalan tanah curam milik pribadi warga, belum tersentuh pembangunan infrastruktur desa.
“Kalau musim hujan apa lagi anak-anak santri sangat susah sekali ke sini. Mereka jalan kaki menembus lumpur kerena akses jalan masih tanah. Sementara rumah saya pun, saya fungsikan jadi ruang tambahan TPQ karena gedung yang ada sangat kecil tidak memadai. Tapi saya percaya Allah SWT, Maha Tau. Saya tidak akan berhenti berikhtiar,” ungkap Erna Setyawati.
“Tolong jangan melihat legalitas. Banyak TPQ yang belum resmi, tapi kualitasnya sungguh luar biasa. Saya hanya ingin anak-anak desa kami mengaji, bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Kami mohon biar akses jalan diperbaiki dan status tanah bisa dipertimbangkan untuk di wakafkan, agar kami bisa bernaung secara hukum. Kalau semua dibatasi karena tidak legal, yang menjadi korban adalah anak-anak santri dan guru yang ikhlas mengajar,” harapannya Erna Setyawati dengan tulus.
“Saya yakin tidak akan menyerah. Saya akan terus berjuang, meski harus berjalan sendiri. Saya yakin Allah SWT. Tidak akan membiarkan cahaya padam untuk santriwan santriwati kami hanya karena kertas legalitas,” ungkap Erna Setyawati.
Kisah TPQ Al Muqrorrobbin, adalah potret nyata kegigihan pendidikan akar rumput, di tengah keterbatasan legalitas dan sarana, yang tidak memadai semangat guru ngaji dan dukungan masyarakat lokal menjadi kekuatan utama. Jika pemerintah daerah dan pihak terkait mampu melihat dengan hati, bukan hanya dengan administrasi, maka cahaya pendidikan Al-Qur’an menyala bahkan disudut desa yang paling sunyi sekalipun.(All Assagaf_&_S Febriansyah)