Kasus Lama Terkuak, Ini Pengakuan Heliyanto, Korban Penganiayaan Pemilik Hotel Satria

0
332
Foto: Tokoh Masyarakat Kecamatan Meral, Heliyanto atau yang akrab disapa Acai Lim, mengaku pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari BL, pemilik Hotel Satria Karimun pada 2019 lalu.

IndependenNews.com, Karimun | Kasus penganiayaan yang diduga dilakukan oleh pemilik Hotel Satria inisial BL bersama saudara dan koleganya terhadap 2 (dua) remaja di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu menguak kasus yang sudah lama berlalu.

Salah seorang Tokoh Masyarakat Kecamatan Meral, Heliyanto atau yang akrab disapa Acai Lim, mengaku pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan dari BL, pemilik Hotel Satria Karimun pada 2019 lalu.

Acai kemudian menceritakan kejadian yang ia alami pada 2019 lalu, saat memberikan keterangan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Balai Karimun. Ia mengaku, dirinya didengkul (disepak di bagian dengkul) setelah itu pelaku BL menjatuhkan dirinya sambil menjerit.

“Aduh sakit (dengan suara keras). Siapa bapak itu, dia yang memukul saya. Siapa namanya,” kata Acai Lim menirukan ucapan BL di Hotel 98 Nagoya, kota Batam, Selasa (22/03/2022).

Padahal kata Acai, BL sudah mengetahui namanya, dan pada saat di kantin, BL masih menegur dirinya. Acai menyebut semua itu dilakukan dengan sengaja atau sedang bersandiwara.

“Saya lagi duduk, dia (BL) mendengkul (disepak di bagian dengkul) dan menjatuhkan dirinya. Lalu bilang saya yang pukul dia,”tutur Acai.

Acai mengaku mengalami gangguan kaki akibat perlakuan tersebut. Ia juga menyebutkan telah melakukan visum dan membuat Laporan Polisi dengan nomor: LP-B /133/X/2019/ KEPRI/SPKT RES KARIMUN, tanggal 16 Oktober 2019 lalu sekitar pukul 10.00 WIB.

Namun kata Acai, polisi mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyelidikan (SP3) dengan surat ketetapan penghentian penyelidikan nomor: S. Tap /06/V/2020/Reskrim.

Di samping itu, Acai juga mengomentari dugaan kasus penganiayaan yang baru-baru ini terjadi di Hotel Satria Karimun terhadap dua remaja inisial MH dan MD pada Minggu (26/02/2022) lalu.

“Kita sebagai tokoh (tokoh masyarakat) melihat mereka berulang-ulang kali berbuat arogan. Mereka merasa orang kaya, punya uang, jadi apa yang mereka inginkan bisa tercapai dengan uang,” tutur Acai.

Sementara itu, Tokoh Melayu Karimun, Datok Azman Zainal mengatakan perdamaian kedua belah pihak (dua remaja MH dan MD dengan pihak Hotel Satria) bukan berarti perkara tersebut gugur.

“Perdamaian tersebut bukan berarti perkara gugur. Hanya salah satu pertimbangan bagi hakim untuk meringankan putusan atau sebagai pertimbangan jaksa penuntut umum dalam tuntutannya,” tegasnya (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here