Dosen Poltekkes Kupang Latih Kader Gunakan Alat Cakram untuk Deteksi Dini Stunting

Independennews.com | NTT — Di bawah terik matahari Kabupaten Kupang, puluhan perempuan berdiri berjejer dengan senyum hangat dan tangan teracung ke depan. Gerakan sederhana itu menjadi simbol komitmen bersama untuk mengatakan: “Stop Stunting!”
Mereka adalah para kader posyandu, tenaga kesehatan desa, dan ibu-ibu yang peduli pada masa depan anak-anak di Nusa Tenggara Timur.

Halaman hijau sebuah gedung kecil di Desa Oelnasi sore itu menjelma menjadi ruang pembelajaran penuh harapan. Para kader mengikuti pelatihan penggunaan Alat Cakram Deteksi Dini Stunting, inovasi praktis yang diperkenalkan oleh tim dosen Poltekkes Kemenkes Kupang: Yurissetiowati, SST., M.Kes., Namsyah Baso, SST., M.Keb., dan Melinda Rosita Wariyaka, SST., M.Keb.

Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait stunting. Data SSGI 2024 mencatat angka nasional sebesar 19,8%, sementara Provinsi NTT mencapai 37%—salah satu yang tertinggi di Indonesia. Di balik angka tersebut, ada para kader desa yang setiap hari bekerja dari rumah ke rumah, mencatat, mengukur, dan mendampingi keluarga di wilayah-wilayah terpencil.

Menurut Yurissetiowati, pencegahan stunting sejatinya dimulai jauh lebih dini, terutama dalam periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Banyak orang baru menyadari stunting ketika anak sudah besar. Padahal pencegahannya dimulai sejak bayi masih dalam kandungan hingga usia dua tahun,” ujarnya kepada media, Sabtu (15/11/2025).

Cakram deteksi dini stunting dirancang untuk memudahkan kader dalam menilai tumbuh kembang bayi dan balita secara cepat dan akurat. Alat ini membantu mereka mengenali apakah pertumbuhan anak masih sesuai kurva standar usia.

Pelatihan berlangsung penuh antusias. Para kader menunjukkan semangat dan rasa percaya diri baru karena kini mereka memiliki alat yang memungkinkan deteksi stunting dilakukan lebih cepat dan tepat.

“Setelah sosialisasi, banyak kader mengatakan bahwa alat ini sangat mudah digunakan. Mereka merasa lebih percaya diri dalam melakukan pengukuran,” tambah Yurissetiowati.

Di sisi lain, Namsyah Baso menyoroti semangat luar biasa para kader yang hadir, sebuah gambaran keteguhan perempuan-perempuan desa dalam menjaga generasi masa depan.

“Kami melihat wajah-wajah yang sederhana namun menyimpan tekad besar: memastikan tidak ada lagi anak yang tumbuh dengan hambatan akibat kekurangan gizi,” tuturnya.

Namsyah berharap alat cakram ini tidak hanya digunakan oleh tenaga kesehatan, tetapi juga bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

“Kami ingin siapa pun di NTT dapat memantau tumbuh kembang anak dengan mudah. Stunting bukan hanya urusan petugas, tetapi urusan kita semua,” tegasnya.

Dengan pembekalan ini, para kader Desa Oelnasi tidak lagi sekadar menjadi penggerak posyandu, tetapi telah menjadi pelopor perubahan, garda terdepan dalam memastikan anak-anak NTT tumbuh sehat, kuat, dan siap menatap masa depan.

Bagi masyarakat atau instansi yang ingin menggunakan Alat Cakram Deteksi Dini Stunting, dapat langsung menghubungi Unit Bisnis Poltekkes Kupang untuk informasi dan pemesanan.

(Marchellino)

You might also like