Diduga Lecehkan Remaja, Anak Anggota DPRD Bekasi Akan dijemput Paksa

0
158

Independennews.com, Bekasi – Kasubag Humas Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Erna Ruswing Andari menyesalkan tindakan anak anggota DPRD Kota Bekasi, AT (21) yang sudah dua kali tak menghadiri panggilan penyidik untuk diperiksa terkait dugaan kasus pemerkosaan terhadap remaja perempuan, PU (15), Senin (03/05/21).

“Beliau sudah dipanggil dua kali, dan sesuai dengan aturan, AT akan dijemput paksa karena sudah dua kali tidak menghadiri panggilan,” ungkap Erna.

Sebelumnya, keluarga korban melaporkan AT ke Polres Metro Bekasi Kota terkait dugaan pelecehan seksual.

Laporan tersebut terdaftar dengan nomor LP/971/K/IV/2021/SPKT/Restro Bekasi Kota, Senin (12/4/2021).

Ibu korban, LF (47) menuturkan bahwa pelaku dugaan pelecehan seksual ini merupakan anak anggota DPRD Kota Bekasi.

“Iya itu, anak anggota DPRD Kota Bekasi,” ucapnya saat dikonfirmasi, Rabu (14/4/2021), dikutip dari Tribun Jakarta.

LF mengaku bahwa korban dan AT sudah berpacaran sekitar sembilan bulan dan
selama menjalani hubungan, korban disebut sering mendapatkan tindakan kekerasan dari AT.

“Pertama tindak kekerasan, lalu pemaksaan untuk bersetubuh, karena anak saya awalnya menolak tidak mau diajak berhubungan intim,” tutur LF.

Pada Minggu (18/04/21), LF juga mengaku bahwa putrinya mengalami penyakit kelamin yang diduga ditularkan oleh terduga pelaku.

“Diagnosa dari pemeriksaan (medis), diakibatkan berhubungan seksual,” ujar LF melalui pesan singkat, seperti dilansir kompascom.

Menurut LF, korban kerap merintih kesakitan dan mengalami pendarahan lantaran terdapat sebuah benjolan pada alat vitalnya setelah diperkosa oleh AT.

Korban pun harus mendapat perawatan intensif dan menjalani tindakan operasi medis.

“Jadi ada benjolan, sering berdarah. (Efeknya) gatal dan nyeri. Mohon doanya operasi kemarin lancar dan kasusnya cepat selesai,” ungkap LF.

LF juga mengaku bahwa keluarga terduga pelaku sempat menawarkan bantuan biaya pengobatan untuk operasi putrinya.

“Saya pernah berkoordinasi dengan keluarga pelaku, bahwa keluarga pelaku menawarkan pengobatan dan mengirim WA ke anak saya agar laporannya dicabut,” ujar LF.

Namun, LF dan keluarga menolak tawaran tersebut karena khawatir bantuan itu akan mengganggu proses hukum kasus dugaan pemerkosaan yang dialami anaknya.

LF pun secara tegas menolak upaya perdamaian dan pencabutan laporan polisi yang diminta keluarga terduga pelaku.

“Dari pihak saya tidak mau ada perdamaian karena sudah sering kali terjadi,” tegasnya. (SOP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here