Dampak Perang Iran Israel, Masyarakat di Humbahas ‘Panic Buying’ BBM, Antrean di SPBU Mengular

IndependenNews.com – Humbahas | Eskalasi perang Iran-Israel terus meningkat. Dalam serangannya ke Iran, Israel yang bersekutu dengan Amerika Serikat bahkan sudah berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Meski begitu, tanda-tanda perang akan berakhir hingga kini belum ada. Masing-masing pihak yang bersengketa masih terus melakukan perlawanan.

Seperti dilansir dari laman detik.com, perang tersebut pada akhirnya turut berdampak terhadap situasi Selat Hormuz.

Pemblokiran kapal yang melintasi lokasi itu dilakukan Iran demi keamanan negaranya. Hal tersebut bisa berdampak besar pada perdagangan global, terutama pada harga minyak mentah.

Diketahui, Selat Hormuz adalah jalur laut vital yang menangani sekitar 20% dari seluruh pasokan minyak mentah dan gas alam cair global. Jika jalur ini terganggu, harga minyak bisa melonjak hingga $100 per barel, yang akan memicu inflasi global dan mengganggu pasokan energi dunia.

Dampaknya tidak hanya pada harga minyak, tapi juga pada industri lain seperti otomotif, logistik, dan perdagangan global. Indonesia, sebagai importir energi besar, akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan bakar, biaya transportasi, dan inflasi .

Di Indonesia, semenjak ada pernyataan kontroversial disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Maret 2026, yang menyebut bahwa stok BBM Indonesia cukup untuk 20 hari, menimbulkan rasa was-was di masyarakat.

Di tengah ketegangan geopolitik (konflik Iran-Israel-AS) yang disebut bisa menutup jalur Selat Hormuz di Iran, membuat masyarakat mendadak ‘panic buying’ terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM).

Meski pernyataan Bahlil sudah diklarifikasi pemerintah, rupa-rupanya itu tidak lagi ampuh untuk mengubah mindset masyarakat Indonesia.

Di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara, misalnya, di sejumlah SPBU antrean masyarakat untuk membeli BBM mendadak ramai.

Setidaknya ada 3 SPBU di Humbahas, yakni SPBU Hutapaung, SPBU Doloksanggul, dan SPBU Nagasaribu, yang terpantau wartawan pada Senin (9/3/2026), semuanya diwarnai antrean yang cukup panjang dari masyarakat untuk mendapatkan BBM.

Padahal, sebelumnya, Bupati Humbahas Oloan Paniaran Nababan melalui akun media sosial sudah memastikan bahwa stok BBM akan tetap tercukupi seperti biasanya.

“Sesuai dengan hasil komunikasi dengan Bapak M. Faray, selaku SBM Sibolga II Fuel PT. Pertamina Patra Niaga, disampaikan bahwa ketersediaan BBM untuk wilayah Humbang Hasundutan dalam kondisi aman dan mencukupi”, terang Oloan kepada masyarakat melalui akun Facebook Pemerintah Kabupaten Humbahas.

Ironisnya, hal itu rupanya tak cukup mampu membendung hasrat masyarakat untuk melakukan pembelian BBM di batas wajar.

Seperti dilontarkan petugas SPBU 14.222.354 Hutapaung, Boru Sinambela, bahwa stok BBM dan kuotanya masih datang seperti normal dari depot Sibolga.

Namun ia juga mengakui, bahwa masyarakat tiba-tiba mendadak ‘panic buying’ hingga menyebabkan kerapnya antrian panjang di SPBU tersebut.

“Tidak ada pengurangan pengiriman. Tapi masyarakat yang terlalu takut”, ucap petugas SPBU tersebut.

Ia menjelaskan, SPBU Hutapaung tersebut, masih tetap seperti biasa menerima pasokan BBM secara normal. Ketersediaan Pertalite, Pertamax, dan Biosolar, menurut dia, juga terbilang aman.

“Seperti hari ini, kami menerima pasokan 16.000 liter Pertalite, 16.000 liter Pertamax, dan 8.000 liter Biosolar. Itu biasanya cukup untuk kebutuhan kita di sini”, ungkapnya. (Rachmat Tinton)

You might also like