Independennews.com | Solok— Embun pagi masih menempel di pucuk-pucuk daun di kawasan Islamic Center Koto Baru, ketika sekelompok orang dengan wajah cerah menggenggam bibit pohon muda. Di barisan depan, Bupati Solok H. Jon Firman Pandu, SH, menunduk perlahan, menepuk tanah dengan lembut. Ia tidak sekadar menanam pohon, tetapi menanam harapan bagi bumi dan generasi mendatang. (6/10).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program inspiratif bertajuk “Catin Nampak” (Calon Pengantin Menanam dan Berdampak), inovasi Kementerian Agama Kabupaten Solok sebagai implementasi Asta Protas Kemenag, khususnya pada poin Penguatan Ekoteologi.
Melalui program ini, setiap calon pengantin diajak menanam pohon sebelum melangkah ke jenjang pernikahan — sebuah simbol bahwa membangun keluarga juga berarti menumbuhkan kesadaran menjaga alam.
“Menanam pohon berarti menanam harapan untuk masa depan yang lebih hijau dan lestari. Lewat program ini, kita ingin para calon pengantin tidak hanya membangun rumah tangga yang harmonis, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,”
ujar Bupati Jon Firman Pandu di sela kegiatan penanaman, Senin (6/10/2025).
Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan. Para calon pengantin peserta bimbingan perkawinan tampak berbaur dengan pejabat daerah dan tokoh masyarakat. Di bawah langit biru yang cerah, tawa dan canda berpadu dengan aroma tanah basah — menghadirkan kehangatan yang jarang terlihat dalam seremoni pemerintahan.
Program Catin Nampak menjadi wujud nyata sinergi antara nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Ia tidak berhenti pada seremoni menanam, tetapi menjadi gerakan moral yang menumbuhkan kesadaran ekologis sejak awal kehidupan berumah tangga.
“Langkah kecil ini akan membawa dampak besar bagi kelestarian alam Kabupaten Solok. Kita ingin menanam kebiasaan, bukan hanya menanam pohon,”
tambah Bupati Solok penuh keyakinan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Solok, para Kepala OPD, serta tokoh masyarakat. Semua bergandengan tangan menanam bibit, meneguhkan komitmen bahwa cinta sejati bukan hanya tentang dua insan, tetapi juga cinta kepada bumi tempat mereka berpijak.
Program ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan. Setiap pasangan yang menikah di Kabupaten Solok akan meninggalkan jejak hijau — satu pohon, satu keluarga, satu harapan.
Ketika kegiatan usai, barisan bibit pohon berdiri tegak tertiup angin lembut. Di sanalah cinta dan alam berpadu — tumbuh bersama, mengakar, dan memberi kehidupan.
(Risky)