Bagikan Ribuan Bibit Tanaman ke Masyarakat, Pantur Banjarnahor: Ayo Marpadot, Tinggalkan Zona Nyaman yang tidak Produktif!

IndependenNews.com – Humbahas | Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dari Komisi E sekaligus Ketua Badan Kehormatan Dewan (BKD), Pantur Banjarnahor, mengajak masyarakat Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) untuk berani melakukan perubahan dalam sektor pertanian dengan mengembangkan komoditas bernilai ekonomi tinggi.


Ajakan tersebut disampaikan Pantur saat menggelar pertemuan bersama konstituen dan masyarakat di Sopo Marpadot, Desa Pearung, Kecamatan Paranginan, Sabtu (23/5/2026).


Kegiatan yang dikemas dalam bentuk dialog pertanian dan edukasi budidaya tanaman produktif itu dihadiri ratusan warga. Menariknya, mayoritas peserta yang hadir berasal dari kalangan milenial, petani muda, serta tokoh masyarakat setempat.


Sebelum acara dimulai, Pantur mengajak masyarakat meninjau langsung area pertanian Sopo Marpadot yang telah ditanami sekitar 1.000 batang alpukat varietas Hass. Hamparan lahan jagung yang dipadukan dengan tanaman alpukat Hass menjadi contoh penerapan sistem tumpang sari yang dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi petani.
Di sela kegiatan, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai teknik budidaya dan perawatan alpukat Hass sebagai salah satu komoditas hortikultura unggulan.


Dalam sambutannya, Pantur optimistis Kabupaten Humbahas memiliki potensi besar menjadi salah satu sentra penghasil alpukat Hass terbesar di Indonesia. Menurutnya, kondisi geografis Humbahas dengan ketinggian 1.000 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut sangat cocok untuk pengembangan tanaman tersebut.


“Lokasi kita saat ini berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Di lahan pertanian ini sudah ditanam sekitar 1.000 batang alpukat Hass, dan hasilnya sangat menjanjikan,” ujar Pantur.


Ia menjelaskan, selain cocok dengan topografi Humbahas, alpukat Hass juga memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Saat ini harga buah alpukat Hass berkisar antara Rp120 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram.


Karena itu, Pantur mengajak masyarakat mulai meninggalkan pola pertanian lama yang dinilai kurang produktif dan berani mencoba komoditas baru yang lebih menjanjikan secara ekonomi.


“Intinya kita harus lebih marpadot, berani maju selangkah atau dua langkah lebih depan. Jangan hanya bertahan di zona nyaman. Tinggalkan kebiasaan lama yang tidak produktif dan mulai berani membuat gebrakan baru, termasuk di sektor pertanian dan perkebunan,” tegasnya.


Meski demikian, Pantur menegaskan pengembangan alpukat Hass tidak harus menggantikan tanaman palawija yang selama ini menjadi andalan masyarakat. Menurutnya, alpukat Hass dapat dikembangkan melalui sistem tumpang sari sehingga tetap bisa berjalan berdampingan dengan tanaman lain.


Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan sektor pertanian modern di Humbahas, Pantur juga menjadikan Sopo Marpadot sebagai pusat pembelajaran dan miniatur pertanian terpadu.


“Bagi siapa saja yang ingin berdiskusi, belajar, atau menambah wawasan tentang pertanian, Sopo Marpadot terbuka untuk masyarakat,” katanya.


Untuk memperkuat edukasi kepada masyarakat, Pantur menghadirkan ahli budidaya dan perawatan alpukat Hass dari Parapat, Pablo Sinaga.

Dalam sesi tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai teknik penanaman, perawatan, hingga potensi pasar alpukat Hass.


Selain sosialisasi budidaya alpukat Hass, kegiatan itu juga diisi dengan edukasi pengembangan tanaman aren genjah, kopi, bawang, dan stroberi yang dinilai cocok dikembangkan di wilayah Humbahas.


Acara berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab antara masyarakat dan para narasumber. Sebagai penutup, Pantur membagikan ribuan bibit alpukat Hass, kopi, dan aren genjah kepada masyarakat guna mendorong peningkatan ekonomi petani melalui sektor pertanian produktif.
(Rachmat Tinton)

You might also like