Aksi Begal Kerap Terjadi, Masyarakat Makasar Pertanyakan Kinerja Kepolisian

0
285

MAKASAR, INDEPENDENNEWS.COM — Belum lama ini aparat Kolisian Polda Makasar kembali kecolongan dengan aksi begal atau geng motor yang meneror warga. Hanya berjarak satu pekan saja pelaku begal kembali menjalankan aksinya, dalam setiap aksinya para begal tidak segan-segan merampas harta milik korban bahkan menghilangkan nyawa korbanya.

Tindakan para begal ini tergolong sangat sadis dalam setiap aksinya. Mereka membawa senjata tajam (Satjam) berupa parang atau anak busur, alat tersebut menjadi senjata yang mematikan kepada korbannya.

Meskipun dari pihak kepolisian sudah berupaya meringkus para pelaku begal itu, namun tak memberikan efek jera, malah semaking liar dan tak terkendali alias sadis.

Berikut rentetan peristiwa demi peristiwa yang terjadi hingga menghadirkan rasa takut yang luar biasa ditengah masyarakat. Kejadian demi kejadian seakan tak ada hentinya melanda warga, bahkan sudah menjadi pemandangan umum untuk dipertontonkan para pelaku begal atau geng motor.

Berikut beberapa warga yang menjadi korban begal yakni warga yang berdomisili di Kecamatan Biringkanaya, seorang pemuda karyawan Hotel di apotik paccerakang mengalami perampasan motor miliknya, saat hendak pulang kerja pada subuh hari sekitar pukul 04.00 wita, dini hari Rabu (28/1/20) disekitaran simpang tiga Ipal Perumnas BTP.

Meskipun korban sempat melakukan perlawanan, namun karena pelakunya lebih dari dua orang, sehingga tidak mampu mempertahankan motor miliknya, para begal yang sangat sadis itu berhasil membawa motor milir korbannya.

Kemudian korban lain, salah seorang karyawan Indomaret, Muhammad Riswan (22), warga Jalan Salodong, Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya yang bekerja diarea Kawasan Industri Makassar (KIMA) akhirnya tewas setelah menjalani perawatan medis selama tiga hari di Rumah Sakit Daya, Makassar.

Korban sebelumnya mengalami luka di bagian perutnya akibat terkena busur gerombolan anggota geng motor.

Salah satu sumber Safaruddin menuturkan, peristiwa yang dialami oleh Riswan terbilang sangat, korban terkenaa busur atau tombak para kawanan geng motor. “Hasil pemeriksaan Korban menunjukan bahwa korban terkena busur beberapa kali pada bagian perut.

Hal yang sama putra pasangan Syamsia (48) bernama Ramli saat itu hendak pulang ke rumahnya sekira pukul 01.00 dini hari usai bekerja pada Jumat, 5 September lalu. Dia menggunakan sepeda motor Suzuki Satria dengan membawa tas ransel dan melintas di Jalan Baddoka.

Dalam perjalanan beberapa meter dari Balai Dinas Pekerjaan Umum (PU), korban tiba-tiba dikejar belasan remaja yang juga menggunakan sepeda motor. Pelaku yang diketahui geng motor itu bahkan mengambil motor dan dua buah telefon genggam BlackBerry milik korban.

Korban lainnya seorang warga asrama haji sudiang dan warga bukit khatulistiwa 2 sudiang berinisial Dg.M salah seorang jurnalis inspiratorrakyat.com yang diserang secara tiba-tiba atau prontal oleh sekelompok kawanan para begal yang diperkirakan berjumlah 30 orang melakukan komvoi motor sambil menyerang orang dan rumah penduduk dengan membawah batu, badik dan busur, mereka melakukan aksinya setelah selesai bermain futsal tak ubah seperti teroris atau mafia yang telah direncanakan sebelumnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan oleh warga berupa anak busur, untunglah inisial M waktu itu cepat melakukan tindakan atau perlawanan dengan memburu para kawanan begal tsb menggunakan balok kayu sebelum para begal tsb berhasil melakukan aksinya.

Pelaku diduga pemain lama yang sebelumnya pernah diamankan oleh anggota koramil namun entah kenapa pelaku begal ini kembali bereaksi. Sehingga sangat disayangkan para pembegal yang kerap meneror warga seakan atau seolah-olah mendapatkan legitimasi atau perlakuan khusus atau istimewa yang dianggapnya sebagai kebal hukum.

Seakan hukum kepada pelaku begal tumpul, lantas sudah sejauh mana keseriusan pihak aparat terkait untuk memberangus para begal ini untuk kemudian dibina.

Situasi maraknya begal diwilayah itu, seakan ada pembiaran dan hal itu menjadi presiden buruk bagi institusi kepolisian dan aparat lainnya terutama stigmatisasi dan supremasi hukum akan mengalami krisis kepercayaan, sebagai pasal karet yang bisa ditarik ulur karena tidak bisa memberikan efek jera bagi pelaku kriminal yang berdampak pada ke khawatirkan akan terjadi gesekan sosial atau hukum rimba, seperti kasus yang pernah terjadi dimana masyarakat kehilangan kendali dengan memassa dan membakar pelaku begal tersebut karena kerapkali berbuat keonaran dan kejahatan ditengah-tengah masyarakat.

Hal yang lazim terjadi dibeberapa titik ruas jalan yang dianggap rawan sering terjadi aksi kejahatan namun tidak tersentu kamera CCTV,  padahal kita semua tahu aparat kepolisian hanya manusia biasa yang memiliki keterbatasan yang tidak mungkin bisa menjamin memantau keselamatan warganya selama 24 Jam.

(Lap. Tim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.