Independennews.com – NTT. Nelayan dan pelapak di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPI) Oeba kembali dibuat kecewa oleh sikap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTT. Undangan resmi pertemuan yang seharusnya disampaikan secara tertulis justru hanya diedarkan melalui aplikasi pesan WhatsApp.
Undangan mendadak itu menimbulkan kebingungan di kalangan nelayan dan pelapak. Mereka menilai cara tersebut tidak menghormati pihak yang terdampak langsung kebijakan pemerintah, khususnya terkait Pergub NTT Nomor 33 Tahun 2025 tentang retribusi pelabuhan perikanan.
“Ini undangan resmi dari pemerintah, tapi kenapa disampaikan seperti main-main saja lewat WhatsApp. Kami merasa tidak dihargai,” keluh seorang pelapak di PPI Oeba.
Para nelayan menegaskan, persoalan kenaikan retribusi hingga 300 persen bukanlah hal sepele yang bisa dibicarakan secara serampangan. Mereka mendesak pemerintah provinsi, terutama Kepala DKP NTT, untuk menunjukkan sikap profesional dengan prosedur yang benar.
Ketua Nelayan dan Pelapak PPI Oeba, Habel Missa, menegaskan pihaknya tidak pernah menerima undangan resmi dari dinas. “Kami tidak pernah mendapat undangan dari DKP. Jadi kalau ada yang ikut rapat dengan dinas, jelas itu bukan dari kami yang sejak awal menolak Pergub Nomor 33 Tahun 2025,” ujarnya, Senin (29/9/2025).
Habel memastikan, nelayan dan pelapak tetap konsisten dengan keputusan bersama untuk menggelar aksi demonstrasi di kantor DPRD NTT dan Kantor Gubernur pada Kamis mendatang. Hingga kini, konsolidasi terus dilakukan dengan target menghadirkan lebih dari 100 peserta aksi.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak DKP NTT belum memberikan klarifikasi terkait alasan penggunaan WhatsApp sebagai sarana penyampaian undangan resmi.
(Marchelo)