Independennews.com | NTT – Suasana hangat dan penuh semangat terlihat di Pustu Penfui Timur saat puluhan kader posyandu mengikuti penyuluhan tentang pemeriksaan Triple Eliminasi—upaya penting mencegah penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu hamil kepada bayi. Mereka duduk rapi, menyimak setiap materi, sebagian bahkan tampak antusias mencatat poin-poin penting.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diinisiasi oleh tim dosen dan mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang, berkolaborasi dengan tenaga kesehatan setempat. Tidak kurang dari 30 kader posyandu terlibat aktif dalam sesi penyuluhan dan pendampingan.
Ketua tim pengabdian masyarakat, Firda Kalzum Kiah, SST., M.Keb., menegaskan bahwa kader posyandu memiliki peran vital dalam mendampingi ibu hamil.
“Kader posyandu perlu memahami pemeriksaan triple eliminasi agar dapat membantu bidan dan ibu hamil dalam memantau kesehatan ibu dan janin. Ini adalah langkah awal mencegah penularan penyakit berbahaya sejak dini,” jelas Firda, Kamis (25/9/2025).
Hal serupa disampaikan Ummi Kaltsum S. Saleh, SST., M.Keb., yang menekankan pentingnya tindak lanjut setelah deteksi.
“Pemeriksaan triple eliminasi tidak berhenti pada hasil. Kader harus mendampingi ibu hamil dalam proses pengobatan serta memastikan pemantauan berlanjut hingga bayi lahir,” tegasnya.
Sementara itu, Martina F. Diaz, SST., M.Kes., mengingatkan para kader agar memanfaatkan Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sebagai alat pemantauan utama.
“Setiap hasil pemeriksaan triple eliminasi wajib dicatat di Buku KIA. Dari sini, kader bisa menilai perkembangan kesehatan ibu hamil, apakah cukup dengan pemantauan rutin atau memerlukan tindakan lanjutan,” ujarnya.
Program Triple Eliminasi yang dicanangkan Kementerian Kesehatan RI merupakan strategi nasional untuk menekan angka kematian ibu dan bayi. Dengan kader posyandu yang terlatih, sigap, dan terlibat aktif, harapan melahirkan generasi bebas HIV, sifilis, dan hepatitis B semakin nyata.