2 KORINTUS 8:1-7 : Melayani Dengan Kasih, Pengorbanan Kristus Dasar Semua Ketulusan

Foto : Ilustrasi

Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPdNats Firman Tuhan ini merupakan nasehat Rasul Paulus kepada jemaat Korintus agar mereka saling memperhatikan sebagai umat Tuhan yang saling membutuhkan. Sebagaimana saling memperhatikan, yang dibutuhkan pada tindakan ini ialah kepekaan, kesadaran, kerelaan untuk berbagi dengan jemaat lain.

Paulus menekankan bahwa memberi bukan hanya diukur dengan uang tetapi itu dapat dilakukan, mengingat jemaat Korintus adalah jemaat besar dan kaya, mestinya mereka juga harus kaya dalam pelayanan kasih. Dan untuk menguatkan maksudnya ini, Paulus memberi contoh jemaat Makedonia yang telah terdepan dalam mengambil bagian terutama dalam pelayanan kasih. Yakni dengan memberi sumbangan kepada jemaat jemaat luar terutama kepada jemaat di Yerusalem. Pada hal jemaat Makedonia merupakan jemaat sangat kecil yang tidak dapat dibandingkan dengan kebesaran jemaat Korintus. (Ironis memang)

Berhubung dengan tujuan ini, Rasul Paulus mengajak jemaat di Korintus agar mereka dapat menjadi kaya dalam segala sesuatu seperti jemaat Makedonia. Jelas disini, bahwa kekayaan yang diajarkan Rasul Paulus bukan kaya dng menumpuk harta. Kekayaan yang harus dikejar oleh orang percaya ialah menjadi kaya dalam “dalam segala sesuatu”. Sebagaimana sering dipahami bahwa kaya hanya sebagai mempunyai banyak harta (uang, dsb), ternyata menurut pengajaran Rasul Paulus, kaya itu tidaklah seperi itu.

Bila ada kaya secara materi, namun ada kaya iman, kaya perkataan, kaya pengetahuan, kaya kesungguhan untuk membantu, kaya dlm kasih, dll (ay. 7).

Seseorang mempunyai kaya harta/banyak harta, namun jika ia tidak memiliki kasih yang berlimpah, pengetahuan yang luas, maupun iman yang besar; dia belum kaya dalam segala sesuatu.

Sikap iman kaya segala sesuatu inilah yg dipuji Rasul Paulus sehingga ia menyanjung jemaat Makedonia. Dan terbukti, memang mereka “kaya dalam segala sesuatu”. Mengapa jemat Makedonia yang kecil itu kaya dalam segala sesuatu? Jawabannya: “…karena jemaat Makedonia telah menerima kharismata/=kasih karunia atau anugerah” (kharismata, artinya: “pemberian/anugerah khusus yang hanya berasal dari Tuhan”…ay. 1).

Penjelasan Nats

Bila diperhatikan cermat susunan dan pokok pikiran yg disampaikan Paulus pada tujuan nasehatnya kepada jemaat Korintus, dapat ditemukan gagasan/ide yang runtut/teratur (ay. 1-7).

Ay. 1: Jemaat Korintus dapat meneladani jemaat Makedonia terutama dalam hal pelayanan kasih yakni menyumbang jemaat-jemaat luar terutama menyumbang jemaat di Yerusalem. Sebenarnya saat itu jemaat Yerusalem merupakan jemaat besar, dan jemaat Makedonia yang anggta jemaatnya sedikit/kecil dan tidak sebanding dengan jemaat Yerusalem. Justru jemaat Makedonia sanggup menjadi tulang punggung sponsor jemaat Yerusalem. Posisi stratgeis Paulus dalam hal perkembangan jemaat di sini sangat sentral sebab ia sangat berusaha mendorong setiap jemaat Kristen dapat membantu jemaat lainnya yang memang membutuhkan bantuan. Jemaat Yerusalem sebagai jemaat yang membutuhkan bantuan, keinginan Paulus jemaat Korintus yang besar itu juga harus mampu/mau membantu jemaat Yerusalem.

Ay. 2: Walau menghadapi banyak cobaan, tantangan, penderitaan pada masanya, suka cita jemaat Makedonia meluap dalam iman. Walau mereka miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Oleh anugerah/kharismata (kasih karunia) Tuhan yang mereka terima, ini mendorong mereka tidak tinggal diam. Mereka berusaha memberi sumbangan kepada jemaat Yerusalem. Jemaat Makedonia yang miskin, tetapi hati mereka tidak miskin namun kaya dalam kemurahan hati.

Ay. 3-5: Pada tiga ayat ini, Paulus menunjukkan tiga kelebihan jemaat Makedonia yakni:
a). Mereka meberi tidak berdasarkan kemampuan mereka memberi, ….bahkan mereka memberi melebihi kemampuan mereka memberi (baca: ay. 3).

b). Mereka memberi menurut kerelaan mereka (ay. 4). “Mereka memberi, tetapi mereka menerima”. Yang mereka terima ialah naugerah/kasih karunia, dan mengambil bagian dalam pelayanan kasih.

c). “Mereka memberi diri secara penh kepada Allah”, inilah alasan utama jemaat Makedonia membantu Paulus dalam pengumpulan dana ke Yerusalem.

Ayt. 6: Titus adalah seorang anak muda murid Paulus yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Sama seperti Timotius, dia adalah seorang pemuda yang taat kepada Tuhan, melayani dengan tulus dan rela berkorban demi Kristus dalam pelayanan dan penginjilannya. Dia telah turut serta dalam pelayanan kasih seperti yang dilakukan oleh jemaat Makedonia, kepada jemaat Kristen di Yerusalem. Untuk memotivasi dan menggerakkan jemaat Korintus, maka Paulus mengutus Titus yang sudah berpengalaman dalam pelayanan kasih itu kepada jemaat Korintus. Padahal dia tergolong sangat muda dibandingkan jemaat dan pemimpin lainnya di Korintus.

Ay. 7: Nasehat ini juga diberikan Paulus kepada Titus agar memimpin pelayanan jemaat Korintus menurut keteladanan jemaat Makedonia terutama dalam makna pelayanan kasih seperti dimaksudkan.

Makna pelayanan kasih seperti maksudkan itu ialah “Kamu kaya dalam segala sesuatu”. Kata “kaya” (diartikan: ”memiliki lebih dari cukup” atau “berada dalam kelimpahan”, atau, “kaya luar biasa”.) Kata kaya kemudian diartikan menjadi ”melimpah-limpah” (ay. 2). Sebagaimana jemaat-jemaat di Makedonia telah ”melimpah-limpah”, demikian pula jemaat-jemaat di Korintus mestinya “melimpah-limpah” dalam segala sesuatu (bnd. perkataan kita seperti: “kamu berkelimpahan dalam segala sesuatu atau kalian unggul dalam segala hal”). Analogi ini pada penghayatan dimaksud menjadi kekayaan di dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus tidak bergantung kepada harta benda. Karena itu tidak perlu menunggu memiliki banyak harta untuk dapat menjadi kaya di dalam Tuhan. Pun tidak perlu menunggu berkelimpahan harta untuk dapat melakukan pelayanan kasih. Sebab mengasihi sesama hanya memerlukan kemurahan hati, sama sekali tidak kelimpahan materi.

Berhubung dengan penjelasan di atas, maka maksud Paulus tentang kekayaan pada nats ini ialah:
a). ”Kekayaan iman.” Kata ini diartikan seperti: “iman yang menyelamatkan” atau ”iman yang menghasilkan mujizat-muzijat” (lih. 1 Kor. 12:9, 10). Dalam perkataan: ini berarti kamampuan untuk berbicara dengan fasih dan bijaksana (lih. 1 Kor. 1:5) seperti: ”kelancaran berbicara”. Cara lain untuk memahami ini di jemaat ialah dalam hal menyatakan pendapat atau dalam percakapan satu sama lain.

b). ”Kaya dalam pengetahuan.” Ini berarti pengetahuan tentang hal-hal rohani. Dalam 1 Korintus Paulus sering berbicara tentang pengetahuan. Yesus Kristus disebut sebagai sumber pengetahuan itu (1:5). Namun pengetahuan itu tidak kekal (13:8) dan bila tanpa kasih, pengetahuan itu tidak berguna (13:2) dan dapat menyebabkan kesombongan (8:1) dan kehancuran orang lain (8:11). Lihat juga pemakaian istilah ini pada 2 Korintus 6:6.

c). ”Kaya dalam kesungguhan untuk membantu. Kata-kata ini juga dapat diartikan menjadi: perhatian terhadap segala sesuatu dan kemauan yang sungguh-sungguh. Orang-orang Korintus sangat bersungguh-sungguh berusaha membangun jemaat Kristen. Dalam 7:11 dan 12, Paulus memuji mereka karena mereka bersungguh-sungguh dalam usaha mereka untuk membuktikan mereka tidak bersalah.

d). ”Kaya dalam kasih terhadap sesama.” Orang percaya harus berlimpah dalam kasih karunia terhadap sesamanya. Berlimpah-limpah dalam memberikan sumbangan kepada orang-orang miskin di Yerusalem, sama seperti mereka berlimpah-limpah dalam segala hal yang telah disebutkan sebelumnya di ayat ini. Pelayanan kasih dimengerti sebagai “kasih karunia”, dan di sini menunjuk kepada usaha mengumpulkan uang untuk jemaat di Yerusalem. Karena itu, meneladani sikap Rasul Paulus, yakni ikut melayani seperti Jemaat Makedonia.

Pesan Pada Kotbah
3. Melayani Dengan Kasih (Mangurupi Sian Nasa Haholongon), inilah judul kotbah ini. Mungkin setiap kita tidaklah termasuk kepada kategori orang yang egois dan pelit/kikir, namun sikap memberi kita malah justru menunjukkan ketegori pd yang baru saja disebutkan. Bila pun tidak dikatakan pelit, … kadang kita memang mengalami kesulitan dalam memberi.. Yaaa! sangat sulit bagi kita untuk memberi dengan sukacita (cheerful heart)! Di posisi inilah teks kotbah ini (2 Kor.8:1-7) ampuh mengajarkan kepada kita rahasia untuk bebas dari sikap itu.

Yakni:
a). Kondisi hati bisa sangat berbeda dibandingkan dengan kondisi fisik. Bahwa kondisi hati seseorang bisa sangat berbeda dari kondisi fisik yang ia alami. Bahwa penderitaan tidak harus menyebabkan kedukaan; dan bahwa kemiskinan tidak harus menyebabkan keterbatasan. Di dalam penderitaan, kita bisa tetap melimpah dengan sukacita; dan di dalam kemiskinan, kita bisa tetap kaya dengan kebebasan.

b). Memberi diri kepada Allah adalah sumber kekuatan di dalam tekanan Pertanyaannya, apa yang membuat jemaat Makedonia tidak terpengaruh oleh penderitaan dan kemiskinan yang mereka alami? Apa yang menjadi sumber kekuatan jemaat Makedonia? Di atas (ay 3-5), telah dijelaskan. Paulus menunjukkan apa yang menjadi sumber kekuatan itu. Dari tiga keutamaan jemaat Makedonia sebagaimana dipuji Paulus, dapat dilihat bahwa permohonan mereka untuk bisa terlibat di dalam pelayanan kasih bagi saudara-saudara seiman mereka; dan mereka melakukannya karena mereka telah memberikan diri pertama-tama kepada Tuhan. Inilah teladan iman yang unggul dan terdepan bahwa apa yang memampukan mereka untuk memberi kepada orang lain adalah karena mereka telah memberi diri kepada Allah. “Memberi diri kepada Allah, … dan jika diterapkan kepada jemaat Makedonia, maka mereka memberikan diri mereka begitu saja kepada Allah, tidak ada maksud terselubung, tidak ada embel-embel. Hanya memberi diri. Ini tentu mujijat dari keyakinan diri orang yang memberi diri kepada Allah.

c). Pengorbanan Kristus adalah dasar semua ketulusan. Satu-satunya alasan yang solid bagi kita untuk memberi diri kita kepada Allah, sebagaimana ditunjukkan Paulus adalah teladan Yesus Kristus. Bahwa: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya”. Fakta dan permasalahanya ialah bahwa jemaat Korintus sebenarnya telah terlibat dalam pelayanan kasih itu namun mereka tidak menyelesaikannya. Itu sebabnya Paulus merasa perlu semakin memotivasi mereka supaya jemaat Korintus menyelesaikan pemberiannya, dan mereka dapat membiasakan diri ”memberi dengan hati yang tulus.” Yang terpenting bagi Paulus, tidak pada apa yang diberikan, tetapi pada suasana/sikap hati yang memberikannya” adalah jemaat Korintus yang kaya, dan jelas sangat mampu memberi lebih daripada jemaat Makedonia yang miskin. Namun apakah mereka mampu memberi dengan hati yang tulus? Disini etak pergumulan (beban hati) Paulus Lalu bagaimana seseorang bisa memberi dengan hati yang tulus? Ketulusan hati di dalam memberi adalah konsekuesni logis dari dua hal ini yakni pertama, “pemahaman kita akan pengorbanan Kristus bagi kita” dan Kedua, “Kesediaan kita memberikan diri seutuhnya kepada Allah”.

d). Melalui kotbah ni, Paulus menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dilandasi kasih karunia dari awal sampai akhir. Paulus menegaskan bahwa tindakan tersebut hanya dapat terjadi karena kasih karunia Allah yang memampukan kita. Tanpa kasih karunia Allah, kita tidak dapat melakukan pelayanan kasih itu. Maka biarlah kita menyadari hal ini bahwa kehidupan sebagai orang percaya yang kita jalani adalah karena kasih karunia Allah. Kita boleh ada sampai saat ini, melakukan aktivitas baik dalam keluarga, jemaat ataupun di masyarakat karena kasih karunia-Nya (only by his grace). Apapun yang dapat kita lakukan jadinya bukan karena kekuatan kita sendiri. Karena itu, kiranya kasih karunia itu yang mendorong kita untuk melakukan pelayanan kasih kepada orang lain yang membutuhkan. Amin.

Pdt. Sikpan K.P. Sihombing, MTh, MPd

You might also like