1 Petrus 3:12
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat
Renungan hari ini merupakan nasehat rasul Petrus kepada (jemaat pada masanya), kita saat ini dengan sikap (kebenaran) iman, kita diuji bukanlah ketika hidup nyaman dan aman, tetapi justru ketika kita berada di tengah dan di dalam kondisi tekanan.
Pada masanya (zaman pemberitaan rasul Petrus), bahwa sebagai kelompok minoritas tanpa perlindungan dari penguasa, jemaat Petrus tidak memiliki kemungkinan untuk menang dalam ”kontes saling memaki atau saling kampanye hitam (black campaign).” Sehingga, mengabaikan ucapan menghina.
Kebenaran Iman Kristen ialah membalas hinaan/tekanan, kejahatan selalu dengan kebaikan dan sikap ini adalah jalan yang lebih bijak”*. Berbuat baik, mengusahakan perdamaian, dan memberkati orang yang berbuat jahat adalah sikap Kristus sendiri (Mat. 5:38-45).
Sikap semacam ini, yang juga menginspirasi semua orang di dunia (misalnya oleh para tokoh besar panutan) sehingga menjadi kekuatan besar yang mengubah kehidupan masyarakat dan banyak orang. Dan pengajaran tidak membalas kejahatan bukan sekadar etika yang indah, atau sikap mengasihani diri, melainkan berlandaskan pada kekuatan dan kebaikan Tuhan sendiri. Ketika kita membalas kejahatan dengan kebaikan, kita menyerahkan diri pada kebaikan Tuhan yang mendengarkan permintaan tolong kita (ay. 12, renungan hari ini). Walaupun hidup penuh ketidakadilan, kita dapat berharap pada kekuatan dan keadilan Tuhan yang akan membalas orang yang berbuat jahat (baca: Mazmur 34).
Untuk melakukan pesan nats ini, sungguh Tuhan telah menyediakan segalanya bagi kita, seperti misalnya ”hikmat, berkat, perlindungan, kesembuhan, mujizat, pemeliharaan, penyertaan, anugerah dan juga pengampunan.“ Walau semua ini belumlah cukup, namun satu kunci yang menentukan untuk mendapatkan semua yang baik dari Tuhan adalah ketika kita memiliki karakter yang baik. Tanpa karakter yang berkenan di hati Tuhan, kita tidak akan menikmati janji Tuhan . Ini poin pentingnya dari ayat renungan ini, “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.” (1 Petrus 3:12).
Nah…! beberapa karakter yang sering mempengaruhi kita sehingga menjadi penghambat bagi kita menerima berkat/keberhasilan (sebagai orang percaya), di antaranya adalah:
a). Hati yang tidak mau percaya. Ketidakpercayaan menjadi penghalang utama mengalami mujizat Tuhan. Jangan keraskan hatimu, percayalah kepada Tuhan sepenuhnya. Tuhan Yesus berkata, *”Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” * (Markus 9:23). Banyak orang Kristen yang baru mau percaya bila sudah melihat bukti. Tetapi, belajar seperti Paulus, yang meski menghadapi banyak tantangan hidup tetap percaya kepada Tuhan. Paulus berkata, “sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat-” (2 Korintus 5:7).
b). Tidak bisa menguasai diri. Penguasaan diri itu penting, karena itu adalah salah satu buah-buah Roh. Jika tidak memiliki penguasaan diri kita “…seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28), sehingga musuh (Iblis) akan mudah menyerang dan menjajah kita.
c) * Suka berbohong atau dusta* Berbohong berarti melawan kebenaran dan “Orang yang dusta bibirnya dalah kekejian bagi Tuhan,” (Amsal 12:22). Alkitab jelas menyatakan bahwa Iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta (baca Yohanes 8:44).
Jadi pesan renungan ini bagi sikap iman kita sehari-hari ialah:
a). Kita sadari, sulit untuk menjadi orang baik dan benar dalam iman di tengah hidup sehari-hari. Menjadi orang benar berarti harus bersedia melawan arus (pergaulan dunia) demi dan untuk Yesus Kristus, misalnya bersikap bertahan ketika disalah mengerti, dan tidak berusaha menyenangkan semua pihak. Akibatnya, sering kali kita tidak siap untuk dijauhi, dibenci, atau segudang respons negatif yang besar kemungkinan kita terima. Kenyataannya, kita lebih siap menerima Yesus yang dikagumi karena kebaikan-Nya ketimbang Yesus yang dibenci karena kebenaran-Nya. Walau demikian, kasih (pengajaran utama kekristean) harus menjadi alasan sejati untuk kita tegap berpijak di atas kebenaran. Tujuan kita untuk bersikap baik/benar dalam keseharian ialah untuk menyembuhkan, seperti seorang dokter yang harus menyayat kulit dan menimbulkan luka dalam proses operasi bagi pasiennya. Jangan salah sangka/paham terhadap perkataan ini, bahwa bila ada orang yang menyangka untuk bersikap benar adalah tiket untuk seenaknya berbicara menghakimi orang lain yang dianggapnya salah jelas anggapan/sikap seperti jelas salah! Dalam kesombongan, ia seperti bebas menghukum orang lain tetapi lupa dengan noda cela hidupnya sendiri. Perlu diingat, orang yang biasa benar belum tentu selalu benar. Karena itu, sebagai orang Kriste yang baik/benar dala kehidupan sehari-hari, sepatutnyalah kerendahan hati dan mawas diri menjadi warna utama yang kita lakonkan dalam hidup setiap waktu. Kita pun masih dalam proses pembentukan Tuhan. Jangan kasar, tetapi sampaikanlah kebenaran dengan sikap hormat, lembut, tegas, sebagaimana itu patut dan positif yakni menyembuhkan. Mari, menjadi orang baik/benar di hadapan Tuhan. Kita tidak berdiri sendirian, mata Tuhan selalu mengawasi untuk setia menolong kita yang hidup dalam kebenaran-Nya!
b). Orang Kristen sering kali mendapatkan berbagai kesulitan, seperti: dihina, dicaci, dan bahkan menjadi sasaran kejahatan. Mempertahankan kehormatan dan reputasi kerap kali tergantung dari kecepatan dan ketajaman lidah menjawab hinaan. Seperti rasul Petrus menolak praktik saling menghina dan saat yang sama ia mengusung slogan “Ketika dicaci, jangan membalas, namun memberkatilah!” Kemudian, memercayakan diri pada keadilan dan kebaikan Tuhan bukan hal yang mudah saat menghadapi tekanan dari lingkungan dan masyarakat setempat. Perlu diingat, bahwa Tuhan menyediakan komunitas orang percaya yang saling menguatkan, bahwa keberadaan teman seiman merupakan bagian dari kebaikan yang Tuhan sediakan dalam menghadapi masa-masa sulit.
c). Tuhan sendiri sangat membedakan antara jalan dunia dengan jalanNya. Mereka ibarat terang dan gelap, tidap dapat dipersatukan. Apa yang baik menurut dunia pada umumnya akan jahat di mata Tuhan, dan sebaliknya. *Ketika Tuhan menganggap bahwa kejujuran adalah hal yang penting, sementara di pihak lain dunia mengatakan bahwa berbohong untuk kebaikan itu tidak apa-apa.” Yang benar ialah semakin hari dunia ini semakin kacau dan semakin bertentangan dengan jalan Tuhan. Yang diinta renungan hari ini ialah “mencintai hidup”, maksudnya ialah sama sekali tidak merujuk pada hidup di dunia ini. Sebab hidup di dunia ini ialah harus menjaga lidah dan ucapan agar tidak mengucapkan kata-kata yang penuh tipu daya (ay. 10). Kita pun harus menjauhi yang jahat dan yang baik, serta berusaha mencari dan mendapatkan perdamaian (ay. 11). Oleh karena itu, *”cintailah hidup kekal itu”*, kehidupan kekal setelah kita mati/tidak berada di dunia ini kelak. Percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka, semua orang akan mengalami hidup kekal yaitu untuk selama-lamanya setelah kita mati. Hidup di dunia ini yang tidaklah kekal (paling lama 70, 80 bahkan bila lewat bisa 90 tahun, tergantung kesehatan tubuh). Oleh karena itu, jika kita mau sungguh-sungguh mencintai hidup, *kita pun harus berusaha melakukan apa yang benar*, agar kita boleh mendapatkan hidup kekal di tempat yang tidak ada air mata, yaitu di surga yang mulia. Hidup di dunia ini harus jalani, …ini sudah bagian dari kewajiban kita. Akan tetapi, pikirkanlah “hidup” setelah tidak berada di dunia ini, karena “hidup” kita di dunia ini hanya sementara. Ketika kita fokus kepada “hidup” kekal itu, maka segala perintah Tuhan pun menjadi tidak memberatkan, kareana kita sadar bahwa segala perintah Tuhan tersebut adalah agar kita bisa mencintai “hidup” kita dan dapat melihat hari-hari yang baik. *Ingat bahwa mata Tuhan tertuju kepada orang-orang yang benar. TelingaNya pun mendengar orang-orang benar yang minta tolong kepadaNya. Tetapi orang-orang jahat tidak akan mendapat bagian dalam Tuhan* (ay. 12). Pilihan ada pada kita, apakah kita mau melakukan yang baik/benar demi “hidup” kekal kita, atau kita tetap mau melakukan yang jahat demi “hidup” sementara kita di dunia ini? Hidup ini adalah pilihan! Amin
tetap semangat dan selalu bertekun dalam doa.
Penulis : pdt Sikpan Sihombing Sth.