Ephorus HKBP Viktor Tinambunan, Dan Pesan Kenabian yang Terbukti: Dari Peringatan ke Petaka di Tapanuli Raya

Foto : Ruddin Sihombimg

Tak ada seorang pun yang pernah benar-benar siap ketika alam akhirnya menagih janji kerusakannya. Hujan yang turun tanpa jeda selama beberapa hari di awal November 2025 mengubah bukit-bukit Tapanuli Raya menjadi dinding rapuh. Sungai-sungai yang semula jinak berubah menjadi arus yang membawa batang kayu, lumpur pekat, dan benda apa saja yang dilepas oleh hutan yang semakin tipis.

Banjir bandang datang bukan sebagai kejutan, tetapi sebagai jawaban pahit dari rangkaian peringatan yang sudah lama disampaikan. Ratusan nyawa hilang. Puluhan desa terkubur lumpur. Rumah hanyut, sawah hilang tak bersisa, jembatan-runtuh memutuskan akses antarwilayah, dan jalan-jalan utama patah seolah memberi tanda bahwa alam sedang mengambil jeda dari ulah manusia.

Di tengah kepedihan itu, satu suara lama kembali bergema, suara seorang pemimpin yang berbulan-bulan sebelumnya menyeru agar manusia berhenti memperlakukan tanah leluhur sebagai lembaran transaksi. Ephorus HKBP, Pdt. Dr. Viktor Tinambunan, pernah mengeluarkan pesan tegas: penebangan hutan di Tapanuli Raya telah melewati batas nalar ekologis, dan industri besar seperti PT TPL harus dihentikan demi menjaga daya hidup alam dan manusia.

Saat itu, pesan itu memicu perdebatan. Banyak yang memahami; banyak pula yang menolak. Sebagian menilai suara tersebut terlalu berani, terlalu keras. Bahkan ada kelompok jumlahnya memang tidak banyak yang melancarkan penolakan dan menuntut agar sang Ephorus diganti karena dianggap mencampuri hal-hal di luar batas kewenangan moral. Mereka berteriak lantang bahwa pemimpin agama tak semestinya “menggiring opini”. Namun suara keras mereka tak sebanding dengan jumlah penduduk yang justru melihat pesan sang Ephorus sebagai bentuk keberanian untuk mengingatkan sebelum terlambat.

Kini, setelah ratusan jiwa melayang dan tanah Tapanuli dipenuhi luka-luka basah, kata-kata itu terdengar bukan sebagai kritik, melainkan nubuat yang lahir dari kepekaan terhadap alam. Sebuah pesan kenabian yang sebelumnya diperdebatkan kini menggantung seperti gema yang mengiringi setiap keluarga yang kehilangan rumah dan anggota keluarga.

Di berbagai daerah, masyarakat yang sebelumnya ragu kini mulai menerima kenyataan bahwa hutan tidak pernah berdusta. Alam memberi tanda jauh sebelum petaka datang; manusia saja yang memilih tidak melihat. Di tengah reruntuhan rumah dan hamparan sawah yang lenyap, semakin banyak warga yang memahami bahwa suara yang dulu dianggap terlalu keras ternyata suara yang paling waras.

Gubernur Sumatera Utara pun ikut menegaskan dukungannya terhadap penghentian operasional PT TPL, sebuah sikap politik yang kini terasa bukan hanya realistis, tetapi perlu. Karena menyaksikan ratusan keluarga yang kehilangan tempat tinggal membuat siapa saja yang masih memiliki nurani tidak mungkin lagi berpura-pura bahwa kerusakan hutan bukan bagian dari persoalan.

Tragedi November 2025 ini seharusnya menjadi titik balik. Bukan hanya untuk menetapkan siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi untuk mengembalikan kesadaran bahwa bumi tidak bisa terus dipaksa memberi tanpa pernah menerima perawatan. Hutan-hutan Tapanuli bukan sekadar pohon dan tanah; ia adalah penyangga kehidupan, penjaga curah hujan, dan pengatur aliran air yang selama puluhan tahun telah memberi keseimbangan bagi manusia.

Kini semua mata kembali tertuju pada satu tuntutan yang dulu dianggap berlebihan: penutupan PT TPL. Tragedi ini memberi alasan paling jelas bahwa menjaga hutan bukan sekadar wacana moral; itu syarat keselamatan manusia.

Mungkin inilah saatnya masyarakat Tapanuli, tanpa terkecuali, berdiri di titik yang sama² menjaga tanah leluhur, mengembalikan hutan yang tersisa, dan menghargai suara yang pernah diabaikan. Karena jika tragedi ini tidak cukup membuka mata, apa lagi yang harus dikorbankan sebelum manusia benar-benar mengerti bahwa alam selalu berbicara lebih jujur daripada kita?

You might also like