Independennews.com | Semarang – Langit malam di Gemah Jaya, Semarang, terasa berbeda. Angin membawa aroma dupa yang berpadu dengan wangi kamboja dan doa-doa lirih. Di rumah almarhum Suhartono bin Soelarno Padmosoemarto—yang akrab dikenal sebagai Maston Lingkar—puluhan seniman dan budayawan datang menundukkan kepala, mengenang 100 hari kepergian seorang guru kehidupan yang menyalakan cahaya lewat panggung, puisi, dan kebijaksanaan.
Malam itu, halaman rumah sederhana di ujung gang menjelma menjadi panggung kenangan. Sejumlah tokoh lintas generasi hadir: Budi Bobo, Niken Ardhana, Suprih Raharjo, Roso Power, hingga Eko Tunas, penulis naskah yang lama bersahabat dengan Maston. Mereka datang bukan sekadar membawa bunga, tetapi juga kenangan tentang sosok yang tegas namun welas asih—seorang guru yang menjadikan teater bukan sekadar pertunjukan, melainkan jalan menuju pemahaman diri.
Usai tahlil dan doa bersama, suasana hening menyelimuti malam. Para tamu mengenang Maston dengan cara yang paling ia cintai: melalui puisi dan kidung lirih.
Salah satu yang tampil, Niken Ardhana, membacakan puisi karya Bunda Dien berjudul Suwung:
“Suwung ing raga,
Suwung ing rasa,
Sejatine minggahing inti ruh,
Krana raos kangen linuwih mring Gustine…”
Suara Niken bergetar, memantul di dinding rumah yang dulu menjadi tempat latihan Teater Lingkar. Beberapa mata tampak basah. Seorang mantan murid berbisik lirih,
“Maston itu bukan sekadar guru. Ia memang mengajarkan teater, tapi sebenarnya sedang mengajarkan hidup.”
Teater Lingkar didirikan pada 4 Maret 1980 di Jl. Genuk Krajan II/9, Tegal Wareng, Semarang. Namun bagi Maston, teater bukan sekadar komunitas seni—melainkan ruang pencarian makna. Ia membangun Teater Lingkar dengan keyakinan:
“Seni adalah jalan manusia memahami diri dan Tuhannya.”
Selama lebih dari empat dekade, Maston membimbing generasi muda tanpa pamrih. Baginya, panggung bukan tempat berakting, melainkan cermin kehidupan.
“Teater bukan soal pertunjukan,” katanya suatu kali di Taman Budaya Raden Saleh, “tetapi tentang menata jiwa.”
Metodenya sederhana—mendengar, merasakan, dan memahami. Ia tidak pernah membeda-bedakan murid. Bagi Maston, setiap manusia memiliki ruang untuk tumbuh. Tak sedikit muridnya kini menjadi sutradara, guru, penulis, maupun penggerak komunitas seni, semuanya menapaki jalan yang pernah ia rintis.
Di lingkungan rumahnya di Perumahan Kini Jaya, Maston dikenal dengan nama sederhana: Pak Hartono. Ia sering terlihat duduk di teras, menulis di buku catatan lusuh, sambil sesekali menyapa tetangga. Tak banyak yang tahu, di balik sosok yang tenang itu, tersimpan jiwa besar seorang pemikir kebudayaan.
Nama aslinya, Suhartono Padmosoemarto, jarang disebut. Tetapi “Maston Lingkar” telah menjelma simbol dedikasi. Ia menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara olah rasa dan olah pikir.
Atas konsistensinya menjaga napas seni, Maston pernah menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas penyelenggaraan wayang kulit setiap malam Jumat selama 200 kali berturut-turut. Baginya, wayang bukan sekadar tontonan, tetapi “zikir budaya”—sebuah upaya menjaga denyut Jawa agar tak kehilangan ruhnya.
Kini, setelah kepergiannya, rumah Teater Lingkar masih berdiri. Gamelan masih berbunyi setiap malam latihan. Para murid tetap berkumpul, menyiapkan pementasan baru. Mereka percaya, Maston belum benar-benar pergi.
“Maston itu pulang, bukan hilang,” ujar Eko Tunas, sahabatnya. “Ia masih hadir di setiap denting gamelan, di setiap kata yang diucapkan di panggung.”
Maston telah menulis hidupnya di antara naskah dan doa. Ia meninggalkan warisan yang tak berupa benda, melainkan kesadaran: bahwa seni bukan jalan menuju ketenaran, tetapi jalan pulang menuju kemanusiaan.
Seratus hari mungkin telah berlalu, namun di hati para murid dan sahabatnya, sosok Maston masih hidup—hadir dalam setiap latihan, setiap laku, setiap sunyi. Ia pernah berkata:
“Kalau hidup adalah panggung, maka kita semua sedang belajar menjadi peran terbaik dari diri kita sendiri.”
Selamat jalan, Guru.
Engkau telah menyalakan api yang tak akan padam.
Dalam setiap suwung, kami masih mendengar suaramu—pelan, jernih, dan abadi.(Ganang)