Independennews.com | Payakumbuh — Empat puluh empat tahun silam, di sebuah rumah sederhana, lahirlah seorang bayi mungil. Tak ada yang tahu, dari tangan kecil itu kelak tumbuh sosok yang membawa keteladanan, menumbuhkan inspirasi, dan memimpin dengan keheningan. Dari langkah kecil itu lahir seorang pria yang bekerja dengan cinta — bukan untuk tepuk tangan, tetapi demi nilai yang bertahan jauh lebih lama dari sorak-sorai.
Di balik senyum ramahnya tersimpan kisah pengabdian yang tak selalu terlihat mata: malam-malam panjang menyusun kebijakan saat kota terlelap; rapat tanpa jeda demi pelayanan publik yang lebih baik; dan waktu bersama keluarga yang sering dikorbankan demi tanggung jawab. Banyak yang tak tercatat, tapi di situlah letak kemuliaannya — memberi dalam diam, menanam tanpa menuntut hasil, bekerja dengan ketulusan yang tak bersuara.
“Tidak setiap perjalanan karier lahir dari ambisi,” ujar seorang kolega. “Ada yang tumbuh dari keheningan, dari kerja yang tak banyak disorot, dan dari hati yang memilih memberi. Wawan Syofianto adalah salah satunya.”
Langkah pengabdian Wawan dimulai di dunia pendidikan. Sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, ia bukan sekadar sosok administratif yang teliti, tetapi pendengar yang peka terhadap denyut sekolah dan hati para guru. Baginya, pendidikan bukan sekadar sistem — melainkan taman tempat karakter ditanam, harapan disemai, dan cahaya kecil tumbuh menjadi terang.
“Pendidikan itu soal hati,” ucapnya suatu kali. “Dan hati tidak bisa diatur dengan perintah, melainkan disentuh dengan ketulusan.” (Payakumbuh, 8/10)
Takdir kemudian menuntun langkah Wawan ke Dinas Kesehatan. Dunia baru, tantangan baru, namun misinya tetap sama: membangun manusia. Ia memahami bahwa mengurus kesehatan bukan hanya soal mengobati, tetapi tentang menumbuhkan kesadaran, merawat kepedulian, dan membangun sistem yang berpihak pada kehidupan.
Di masa kepemimpinannya, Payakumbuh mencatat kemajuan berarti: penguatan layanan primer, penurunan angka stunting, hingga inovasi digital yang memperpendek jarak antara rakyat dan layanan kesehatan. Namun di balik capaian itu, Wawan tetaplah pribadi yang sama — tenang, rendah hati, dan berjiwa hangat.
Baginya, pemimpin sejati tidak meninggalkan jejak kebisingan, melainkan meninggalkan nilai.
Kini, setelah masa tugas strukturalnya usai, Wawan memilih jalan pengabdian yang lebih sunyi namun penuh makna — menjadi Widyaiswara.
“Menjadi Widyaiswara itu seperti menanam benih,” katanya lirih. “Kita tidak selalu tahu kapan ia tumbuh, tapi kita percaya, kelak akan berbuah.”
Di ruang-ruang pelatihan, Wawan kembali menyalakan cahaya: berbagi ilmu, menyalurkan pengalaman, dan menuntun generasi muda aparatur untuk bekerja bukan hanya dengan kepala, tetapi dengan hati. Dari ruang rapat ke ruang kelas, dari memimpin ke membimbing — esensinya tetap satu: mengabdi untuk manusia dengan ketulusan yang melampaui kata.
Wawan Syofianto mengajarkan satu hal sederhana namun agung: bahwa pengabdian sejati bukan soal jabatan, tetapi tentang nilai yang ditanam dan cahaya yang dinyalakan — cahaya yang tetap bersinar, bahkan ketika tak banyak yang melihat.
(Dioni)