Independennews.com | Padang, 12 Oktober 2025 — Popularitas Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Rusemy, kini tengah menjadi sorotan tajam publik dan media. Dengan jumlah pengikut yang terus melonjak, interaksi tinggi di berbagai platform digital, serta pemberitaan yang intens, Vasko digadang-gadang sebagai wakil gubernur terpopuler di Indonesia versi media sosial. Fenomena ini memunculkan pertanyaan pedas: apakah Gubernur Mahyeldi mulai kalah dalam perang citra digital?
Vasko tampil agresif di lapangan — menghadiri kegiatan sosial, berbaur dengan masyarakat, dan secara aktif memanfaatkan media sosial untuk menampilkan kinerjanya. Ia membangun citra sebagai pemimpin muda, komunikatif, dan responsif terhadap isu publik. Sementara itu, Mahyeldi, meski memiliki kendali penuh atas arah kebijakan daerah, justru dinilai kurang menonjol di ruang publik digital. Akibatnya, banyak warga yang lebih mengenal wakil gubernur ketimbang gubernurnya sendiri.
Sejumlah pengamat politik Sumbar menilai situasi ini sebagai sinyal peringatan serius bagi tim komunikasi Gubernur. “ADPIM harus segera bergerak cepat. Mereka perlu membangun narasi yang kuat dan menampilkan program-program Mahyeldi secara masif, menarik, dan relevan dengan publik digital. Jika tidak, Mahyeldi akan terus tertinggal dalam persepsi publik,” ujar para pengamat politik, Minggu (13/10).
Fenomena ini memunculkan dua tafsir tajam: apakah Vasko sengaja tampil lebih dominan untuk membangun basis politiknya sendiri, atau justru Mahyeldi kehilangan sentuhan langsung dengan masyarakat. Persepsi publik kini bergeser — Vasko dianggap sebagai “wajah pemerintahan Sumbar”, sementara sang gubernur dinilai sekadar figur administratif yang jauh dari keseharian rakyat.
Situasi ini menjadi alarm politik bagi Mahyeldi. Tanpa strategi komunikasi yang modern, adaptif, dan terukur — terutama melalui kanal digital dan media sosial — popularitasnya berpotensi terus merosot. Sementara itu, Vasko kian mengukuhkan diri sebagai pejabat paling dikenal dan paling dekat dengan masyarakat Sumbar.
Pada akhirnya, fenomena ini menegaskan satu hal penting: di era digital, kepemimpinan bukan hanya tentang kebijakan, tetapi juga tentang persepsi dan kehadiran publik. Seorang gubernur yang tidak hadir di ruang digital berisiko kalah dalam perang citra, bahkan ketika kekuasaan formal masih berada di tangannya.
(Dioni)