SMA Negeri 1 Baktiraja Lalai Terbitkan Ijazah, Seorang Siswa Ditolak Mendaftar ke Sejumlah Perguruan Tinggi 

Humbahas – IndependenNews.com | Akibat kelalaian SMA Negeri 1 Baktiraja, seorang siswa inisial JL (17), tidak dapat mendaftar ke sejumlah perguruan tinggi untuk melanjutkan pendidikannya.

Pasalnya, ijazah siswa tersebut diterbitkan pihak SMA Negeri 1 Baktiraja tetapi tidak linear dengan pangkalan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas).

Kepada media, LS (36), orang tua JL mengemukakan, bahwa setelah menerima ijazah beberapa waktu yang lalu, mereka tidak menyadari adanya kesalahan penulisan tempat lahir yang tidak sesuai dengan identitas anaknya di dokumen catatan kependudukan lain.

“Dalam ijazah yang dikeluarkan SMA Negeri 1 Baktiraja tertulis tempat lahir anak saya di Doloksanggul. Padahal sesuai data di KTP, tempat lahir seharusnya di Dolok Sanggul. Jadi antara Dolok dan Sanggul harus ada spasi”, terang LS.

Pihak keluarga sendiri baru menyadari kesalahan penulisan tempat lahir itu setelah JL ditolak mendaftar oleh beberapa universitas. Total sudah ada 8 perguruan tinggi yang ia coba hubungi secara online untuk melakukan pendaftaran.

“Terakhir saya mendaftar ke STAN, di situlah saya dikasitahtau kalau tempat lahir saya di ijazah berbeda dengan di identitas kependudukan”, ucap JL.

Sementara, JL menambahkan, belakangan ini, proses pendaftaran ke perguruan tinggi didominasi metode online. Sehingga saat ada kesalahan penulisan di dokumen yang ia registrasi, tidak ada pemberitahuan secara langsung bagi calon mahasiswa. 

“Sistem online akan lebih dominan menolak atau menganggap si pendaftar kalah karena tidak kesesuaian dokumen”, tambah JL.

Pihak keluarga sangat menyayangkan kelalaian SMA Negeri 1 Baktiraja yang berbuah buruk pada masa depan seorang siswa dari sekolah tersebut.

Menurut mereka, akibat ulah sekolah tersebut, sang anak terpaksa mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

“Tersisa pendaftaran hanya melalui jalur mandiri, itu pun ga semua kampus yang masih ada penerimaan. Padahal kami juga orang yang kurang mampu”, keluh JL.

Untuk diketahui, JL merupakan anak yatim. Ia kini dibesarkan seorang diri oleh ibunya, LS. Sedangkan sang ayah JL, sudah meninggal dunia saat ia masih bayi.

Di tengah keterbatasannya, karena memiliki cacat bawaan lahir, LS terus berjuang membesarkan dan menyekolahkan anak semata wayangnya itu.

Terpisah, Kepala SMA Negeri 1 Baktiraja Dame Siregar, saat dimintai keterangan terkait kesalahan penerbitan ijazah tersebut, mengakui kekhilafannya.

“Kami minta maaf dan kami akui ada kesalahan karena memang operator kami ini manusia, jadi terkadang ada salah”, kata Dame kepada wartawan di kantornya, Kamis (10/7/2025).

Untuk memperbaiki kesalahan tersebut, Dame mengatakan, pihak sekolah sudah menindaklanjuti keluhan siswa tersebut.

“Hari ini kami ganti ijazahnya”, ujarnya.

Saat ditanya soal siapa yang bertanggungjawab atas kerugian siswa karena keinginannya mendaftar ke perguruan tinggi negeri sudah kandas, lagi-lagi pihak sekolah hanya sebatas mengatakan permintaan maaf.

“Iya kami paham. Sekali lagi kami minta maaf”, kata Dame kembali. (Rachmat Tinton)

You might also like