Sedekah Bumi Desa Rowosari, Tradisi Jawa Wujud Syukur Spiritual dan Sosial

Kepala Desa Rowosari, Heri Agus Riyanto, Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang.

Independennews.com – Pemalang – Kepala Desa Rowosari, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang. Dihalaman Balai Desa Heri Agus Riyanyo menyampaikan bahwa tradisi Sedekah Bumi atau yang akrab disebut Legenonan oleh masyarakat setempat, merupakan bentuk sedekah secara tidak langsung kepada Allah SWT. Tradisi yang digelar setiap tahun di bulan Mei ini tidak hanya melestarikan warisan budaya Jawa, tetapi juga memperkuat spiritualitas warga dalam bingkai kebersamaan.

“Sedekah bumi adalah wujud rasa syukur kami kepada Allah SWT. Harapannya, Desa Rowosari menjadi desa yang aman, makmur, dan loh jinawi,” ujar Heri Agus Riyanto.

Sambung Heri, kegiatan ini diprakarsai Pemerintah Desa Rowosari bersama BPD, RT, RW, tokoh masyarakat, serta melibatkan organisasi perempuan seperti Fatayat NU dan Nasyiatul Aisyiyah ranting Desa Rowosari

Tahun ini, kata Heri tradisi Legenonan (Sedekah Bumi) dikemas secara religius melalui pembacaan 30 juz Al-Qur’an, tahlil, dan pengajian. Format acara berbeda dari tahun sebelumnya yang biasanya menyertakan hiburan rakyat seperti gulungan. Keputusan ini diambil melalui musyawarah desa karena mempertimbangkan kondisi cuaca dan situasi setempat.

Sedekah bumi dilaksanakan pada Minggu (25/5/2025) terpusat di Balai Desa Rowosari Kecamatan Ulujami Kabupaten Pemalang, sejak pagi hingga malam hari.

Tradisi ini merepresentasikan nilai spiritual, sosial, dan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Selain sebagai ritual syukur, Sedekah Bumi juga menjadi ruang konsolidasi sosial dan edukasi nilai luhur kepada generasi muda.

Kegiatan berlangsung lancar, tertib, dan tepat waktu sesuai rencana. Partisipasi warga tinggi, menunjukkan antusiasme terhadap pelestarian tradisi yang sarat makna religius dan sosial itu.

“Pemerintah Desa Rowosari berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas desa, serta menjadi pijakan spiritual untuk membangun masyarakat yang harmonis, mandiri, dan religius dalam menghadapi tantangan zaman,” tutup Heri Agus Riyanto.(S Febriansyah)

You might also like