Independennews.com | Pemalang — Forum dan komunitas wartawan di Kabupaten Pemalang menyampaikan protes keras terkait dugaan pemberian sejumlah uang oleh pihak kontraktor proyek kepada oknum yang mengaku wartawan. Praktik tersebut dinilai mencederai integritas profesi dan merusak kepercayaan publik terhadap dunia jurnalistik.
Dugaan adanya “atensi” tersebut dianggap berpotensi mengarah pada praktik suap atau gratifikasi, terutama jika tujuannya untuk memengaruhi pemberitaan. Forum Perkumpulan Wartawan Peduli Sosial Pemalang, yang merupakan bagian dari Aliansi Wartawan Pemalang Bersatu, menilai tindakan itu sebagai pelecehan terhadap profesi wartawan.
“Kalau tujuan atensi itu hanya untuk membungkam peran media, maka oknum tersebut jelas telah menjatuhkan dan mengorbankan marwah profesi kami sebagai wartawan di Kabupaten Pemalang,” tegas Mas All, Pengurus Forum Perkumpulan Wartawan Peduli Sosial Pemalang, Minggu (30/11/2025).
Ia menegaskan bahwa segala bentuk pemberian hanya dapat diterima apabila dilakukan secara transparan, tidak berkaitan dengan kepentingan pemberitaan, serta tidak dimaksudkan untuk mengarahkan isi liputan.
Menindaklanjuti keresahan tersebut, Aliansi Wartawan Pemalang Bersatu berencana menggelar audiensi dengan pihak kontraktor proyek urugan pembangunan pabrik pakan ternak di Kecamatan Ampelgading. Langkah ini dilakukan untuk meminta klarifikasi terkait dugaan adanya pemberian uang bulanan kepada oknum yang diduga mencatut nama wartawan.
“Kami akan menggelar audiensi agar persoalan ini tidak simpang siur dan tidak menimbulkan polemik berkepanjangan. Kami tidak rela marwah profesi wartawan direndahkan oleh oknum ormas demi kelancaran pekerjaan atau kepentingan pribadinya saja,” ujarnya.
Ia mengingatkan seluruh pihak, termasuk oknum yang mengaku wartawan, agar tidak terlibat dalam praktik yang dapat merusak citra pers. Independensi dan integritas, katanya, adalah harga mati bagi dunia jurnalistik.
Dalam konfirmasi terpisah, pihak kontraktor atau pelaksana urugan mengakui bahwa memang ada pemberian sejumlah uang kepada beberapa pihak, termasuk oknum ormas dan oknum wartawan. Dana tersebut disalurkan melalui kepala desa sebelum kemudian dibagikan oleh bagian humas.
“Kami menerima data dari Pak Kades. Nominalnya berbeda-beda, ada yang menerima Rp1 juta sampai Rp3 juta. Jika pemberian ini dinilai tidak tepat, ke depan akan kami evaluasi dan akan kami koordinasikan kembali dengan Pak Kades dan humas,” ujar pihak kontraktor melalui sambungan telepon WhatsApp.
Kepala Biro Kabupaten Pemalang Media Vokalpublika, Ripto Anwar, turut memberikan tanggapan. Ia menyoroti bahwa praktik-praktik tidak etis oleh segelintir oknum justru kerap mencoreng nama baik profesi wartawan sendiri.
Menurutnya, masih ada oknum wartawan yang tanpa beban moral menjual atribut profesi dan mengorbankan kreativitas serta integritasnya hanya demi sejumlah uang.
“Sehingga jangan kemudian menyalahkan lembaga atau institusi, baik pemerintah maupun swasta, jika sering memandang sebelah mata profesi kita. Karena memang kita sendiri yang merusak martabat, wibawa, dan harga diri kita sebagai jurnalis,” tegasnya.
Ripto berharap momentum ini menjadi pengingat bagi wartawan Pemalang untuk memperkuat komitmen menjaga independensi dan menolak segala bentuk intervensi dalam pemberitaan.
“Saya berharap para wartawan di Pemalang menegaskan komitmen menjaga kehormatan profesi dan menolak intervensi yang dapat mencederai independensi pers,” ujarnya.
Ia menutup dengan seruan agar sesama insan media saling mendukung dalam menjaga marwah profesi.
“Saya ingin menyampaikan kepada rekan-rekan media agar saling bahu-membahu menjaga kekompakan demi kehormatan kita sebagai pribadi yang menjunjung tinggi norma dalam menjalankan profesi,” tutup Ripto Anwar.
(Mas All/Tim)