Polda Sumut Grebek Pijat Plus-Plus Khusus HOMO di Medan

0
353

MEDAN, INDEPENDENNEWS.COM Kapolda — Sumatera Utara Irjen Pol Drs. Martuani Sormin Siregar, M.si. Ungkap Kasus Penggrebekan Pijat Plus-Plus Khusus Gay (Laki-Laki Homo). Kapolda sumut di dampingi Subdit IV Renakta, Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) berhasil melakukan penggerebekan Pijat Khusus Plus-Plus Untuk Gay (Laki-Laki Homo) di komplek Setia Budi II Lokasi Jalan Ringroad, Kecamatan Medan Sunggal, Sabtu (31/5/20).

Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Sumut Kombes Pol Irwan Anwar dalam pemaparannya pada Rabu, (03/06/2020) mengatakan, penggerebekan Praktik Pijat Plus-Plus Khusus Gay (Laki-Laki Homo) tim rerserse Polda Sumut berhasil mengamankan 11 orang laki-laki Homo beserta sejumlah barang bukti, yakni handphone, serta sejumlah uang, dan alat kontrasepsi.

Diskrimum mengatkan, sudah mengamankan para pelaku Sebanyak 11 orang laki laki (HOMO). Dimana 1 orang berinisial A adalah sebagai perekrut dan yang menyediakan tempat pijat plus-plus. Sedangkan yang lainnya adalah terapis,” jelasnya saat konferensi persnya di Mapolda Sumut.

Lanjut Dirreskrimum, “Praktek Pijat Plus-Plus ini terkesan cukup aneh. Sebab itu yang melakukan terapi adalah laki-laki, kemudian yang menyiapkan juga laki-laki, bahkan dari hasil penyelidikan klien atau pasiennya juga semuanya laki-laki (Homo),” ungkapnya.

Dirreskrimum Polda Sumut menambahkan, “Tentu saja para pelaku Homo seksual ini sudah mempunyai jaringan atau group kumpulan Gay (Laki-Laki Homo), untuk mempermudah komunikasi yang bisa mereka gunakan untuk mempertemukan antara mereka dengan para pengguna alat kontrasepsi.

Lanjutnya lagi, “Oleh sebab itu Kapolda Sumut mengatakan kasus ini akan di dalami, dengan adanya ditemukan sebuah alat dari grup Gay yang mereka gunakan. Dari hasil pemeriksaan kepada para pelaku, Usaha praktek pijat plus-plus khusus
(Homo seksual) ini sudah berjalan selama kurang lebih 2 tahun berjalan,” terangnya.

Kemudian khsusnya untuk tersangka A, kata Irwan Anwar, pihaknya akan mempersangkakan dengan UU No. 21 tahun 2007 tentang pemberantasan perdagangan orang.

“Dalam pasal ini telah disebutkan, bahwa untuk merekrut, menampung, dan menerima orang untuk tujuan eksploitasi, atau pemanfaatan fisik dan hubungan seksual, akan dikenakan Pidana seringan-ringannya 3 tahun penjara, dan selama-lamanya 15 tahun penjara dengan denda minimal paling sedikit Rp. 120 juta dan maksimal Rp. 600 juta.

Sementara itu, dari 11 tersangka dijerat dengan pasal 296 KUHP, yaitu menyebabkan atau memudahkan terjadinya perbuatan cabul atau berhubungan sesama jenis,” ucapnya.
(Firman/Wahidin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here