Independennews.com | MAMUJU – Ketua Tim Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Fatma, membenarkan adanya ASN Kemenag Sulbar yang tidak membayar zakat sejak April 2024. Pasalnya, hal tersebut dilaporkan bersamaan dengan kasus Kakanwil Syafrudin Baderung pada waktu itu.
“Iya, memang sudah ada sejak April 2024, bukan Januari, saat kasus tersebut dilaporkan bersamaan dengan kasus Pak Kanwil Syafrudin Baderung,” kata Fatma saat dikonfirmasi melalui telepon, Selasa (18/3/2025).
Lebih lanjut, Fatma menjelaskan bahwa setelah pergantian Kakanwil sebelumnya, dengan Kakanwil yang saat ini Adnan Nota, pembahasan mengenai zakat mulai disampaikan dan surat pernyataan terkait pembayaran zakat profesi dan infak pun dibuat. “Pada saat Kakanwil baru, Pak Adnan Nota, kami sampaikan terkait zakat profesi dan infak itu,” ujarnya.
“Kami juga telah melakukan sosialisasi bersama Baznas pada saat itu untuk pernyataan pembayaran zakat dan infak, namun yang sering dibayar oleh ASN adalah infak, sedangkan zakat profesi hanya dibayar oleh satu atau dua orang saja,” tambahnya.
Sementara itu, Fatma mengatakan bahwa pada Maret 2025, pemotongan zakat profesi dan infak dari rekening ASN sudah mulai dilakukan. “Bulan Maret ini kami sudah mulai membayar melalui pemotongan dari rekening ASN dan langsung masuk ke rekening Baznas Sulbar. Jadi, bukan kami tidak mau membayar zakat, tetapi ada kendala. Namun, zakat ini bukan kewajiban, melainkan sunnah,” ujarnya.
Dirinya juga menegaskan agar Baznas Sulawesi Barat (Sulbar) memberikan laporan yang transparan kepada muzaki, baik melalui website maupun laporan langsung dari Baznas, agar dapat diketahui masyarakat. “Baznas Sulbar juga harus transparan kepada muzaki melalui website Baznas, supaya kami bisa melihat dan mengetahui bagaimana pendistribusiannya,” tegasnya.
Fatma juga menyoroti kegiatan Baznas yang lebih fokus pada penyaluran sembako. Ia mengharapkan dana zakat bisa dikelola dengan lebih baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Kami berharap masyarakat sejahtera dengan adanya dana zakat yang dikelola dengan baik, yang tadinya mustahik menjadi muzaki. Namun, ini masih kurang di Baznas karena banyak program yang lebih fokus pada kegiatan sosial dan penyaluran sembako. Padahal yang kami harapkan adalah agar masyarakat benar-benar sejahtera,” pungkasnya.