MENJADI SAKSI SEGALA SESUATU

1
473

RENUNGAN HARIAN

Kisah Para Rasul 5 : 32″

“Dan kami (rasul-rasul) adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia”.

Dalam Alkitab, kata “saksi” merupakan terjemahan langsung dari kata bahasa Yunani martus (martur), artinya: “seseorang yang menyatakan apa yang telah ia lihat, dengar, atau ketahui”. Lalu pengembangan kata ini, dalam bahasa Inggris disebut *martyr* yang berarti “seseorang yang membawa kesaksian melalui kematiannya”. Kesaksian dan kemartiran memiliki akar dan hubungan yang sangat erat/terkait.

Selanjutnya, pada masa kini istilah “bersaksi” disamakan dengan “kegiatan mengkomunikasikan Injil secara pribadi”. Pada masa Alkitab, yang salah satu kisahnya kita baca dalam bagian (pasal 5) ini, “bersaksi” lebih merupakan pernyataan di muka umum di tengah tantangan dan penganiayaan. Orang-orang percaya ditangkap, dihina, diadili, diancam, disesah, dipersekusi, dianiaya. Bukannya susah, mereka justru bergembira, karena boleh/menanggung menderita karena Yesus Kristus. Bukannya berhenti, mereka terus mengajar dan memberitakan Injil, setiap hari. Sejarah mencatat bahwa pengakuan dan pengorbanan orang-orang percaya mula-mula ini sangat mempengaruhi orang-orang pada masa itu. Ketegaran mereka (para saksi Injil) dalam penderitaan juga meneguhkan betapa bernilainya kebenaran yang mereka beritakan. Bisa jadi hal ini yang kemudian menyebabkan *banyak imam, para penguasa, para raja/kaisar dan orang berkuasa lainnya jaman itu juga menyerahkan diri dan percaya kepada Injil Yesus Kristus*. Sebab kekuatan/kuasa ketegaran iman di tengah penderitaan, itu tidak dapat dipandang sebelah mata pengaruh wibawanya.

Pada Nats renungan Kisah 5:32 ini, dilaporkan para rasul mengakui bahwa mereka adalah saksi dari semua yang mereka beritakan itu. Pada ayat ini arti menjadi “saksi” yakni: pada satu pihak para rasul menjadi saksi mata yang melihat, mendengar, bahkan mengalami setiap kejadian yang terjadi pada Yesus”. Di pihak lain, para rasul memberitahukan pekerjaan pemberitaan Injil yang mereka lakukan tentang apa yang mereka alami, lihat dan seterusnya tentang Yesus Kristus. Bukan hanya para rasul saja yang menjadi saksi dari semua itu, tetapi juga Roh Kudus yang dikaruniakan kepada orang yang taat kepada Allah. Artinya, para murid percaya bahwa Roh Kudus bersaksi tentang Yesus (bnd. Yoh. 15:26) dan akan mengajar para murid tentang segala ajaran Yesus (Yoh. 14:26). Alkitab banyak sekali menceritakan tokoh-tokoh menjadi saksi yang mengalami dan melakukan banyak perkara luar biasa oleh karena penyertaan Roh Kudus. Catatan dalam perkembangan gereja juga menemukan banyak sekali tokoh panutan iman yang mengalami dan melakukan banyak perkara besar dan luar biasa oleh karena penyertaan Roh Kudus. *Kepada mereka semua, Allah memberikan Roh Kudus sebagai Pribadi yang senantiasa menyertai dan menolong kehidupan orang percaya*. Di masa kini di Indonesia, *masih ditemukankah tokoh panutan dalam iman yang melakukan banyak perkara luar biasa olehkarena penyertaan Roh Kudus?* (sebuah refleksi pribadi: *maukah?*)

Lalu, dari mana para saksi Injil Kristus memiliki kuasa dan kemampuan untuk menderita bagi pekerjaan Tuhan? Jelasnya, *kemampuan itu datangnya bukan dari diri sendiri, melainkan dari Roh Kudus*. Seorang saksi Injil Kristus (orang percaya) di tengah kesaksian mereka yang mengandalkan dirinya sendiri tidak akan mampu menghadapi penderitaan yang timbul saat melakukan pekerjaan Tuhan. Rasul-rasul harus menghadapi penganiayaan pada waktu mereka memberitakan Injil. Mereka ditangkap dan kemudian dipenjara (5:18). Setelah seorang malaikat melepaskan mereka dari penjara, mereka kembali memberitakan firman Tuhan di Bait Allah (5:19-21). Selanjutnya, para pengawal kembali mengambil para rasul untuk disidang oleh Mahkamah Agama (5:26-27). Dalam sidang tersebut, para rasul ditegur karena mereka memberitakan tentang Yesus Kristus. Petrus, Yohanes, dan kemungkinan juga rasul-rasul yang lain, akhirnya dilepaskan setelah sidang Mahkamah Agama mendengar nasihat Gamaliel, seorang ahli Taurat yang sangat disegani. Namun, sebelum dilepaskan, mereka disesah terlebih dahulu dan mereka dilarang untuk mengajar dalam nama Yesus (5:28-40).

Menjadi saksi Injil masa kini? Ya… tentu! Semua kita orang percaya masa kini hendak dipakaiNya dengan luar biasa sesuai dengan rencanaNya, asalkan kita mau membuka hati dan bersekutu dengan Roh Kudus. Menjadi saksi Kristus dalam kehidupan sehari-hari, tentu terlebih dahulu harus menyadari kehadiran Roh Kudus di dalam diri kita, jangan justru menutup kehadiran Roh Kudus masuk masuk dalam kehidupan kita. Bersekutu bersama dengan Roh Kudus, membuka tersedianya kuasa dan kekuatan kepada kita. Menjadi saksi Injil itu berarti kita ingin mendapatkan kasih karunia Tuhan Allah dalam hidup kita bahwa firman Tuhan mengajarkan agar kita membangun persekutuan dengan Roh Kudus.

Dalamkesaksian itu, Tuhan ingin kita bersahabat dengan Roh Kudus, di mana menjadi sahabat berarti selalu berjalan bersama-sama dalam segala hal di setiap waktu, bukan hanya dalam hal-hal tertentu atau saat-saat tertentu saja. Menjadikan Roh Kudus rekan sekerja; artinya kita melibatkan Roh Kudus dalam segala hal agar Ia menuntun dan menolong kita dalam mengambil setiap keputusan, baik bagi diri kita sendiri maupun di dalam pekerjaan dan pelayanan kita. Rasul Petrus dalam pelayanannya senantiasa melibatkan Roh Kudus dan mengakui bahwa Roh Kudus adalah rekan sekerjanya. Tanpa penyertaan Roh Kudus dia tidak akan memiliki keberanian saat ia dihadapkan ke depan Mahkamah Agama.

Sekali lagi, orang percaya secara pribadi dan gereja, dipanggil untuk melanjutkan kesaksian itu hingga ke ujung bumi, sampai segala suku bangsa menerima pemberitaan Injil kerajaan yang mulia ini. Generasi sebelumnya, para rasul dan gereja mula-mula, telah memberi teladan dalam kesetiaan untuk kita ikuti menjadi saksi. Generasi orang Kristen sekarang dituntut setia dalam perjuangan dan ketaatan yang sama dengan kesaksian para rasul dan jemaat Kristen awal. Kehidupan rohani orang Kristen yang benar, pasti mengalami pertumbuhan yang baik yang makin hari makin (bertumbuh) dewasa. Itulah yang dikehendaki Tuhan Yesus Kristus. Untuk mencapai kedewasaan rohani yang unggul, itu tidak dapat diperoleh dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan bersama Roh Kudus, “yang menyertai, mendampingi seluruh aspek kehidupan orang percaya”.

Akhirnya, jika menemukan hambatan dan tantangan menjadi saksiNya, berhikmatlah dalam kesaksian (memberitakan Injil) itu. Jangan takut menjadi saksi Kristus, sebab Tuhan Allah yang mengehndakinya kita menjadi saksiNya. Lebih takutlah kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh daripada kepada manusia yang hanya berkuasa membinasakan tubuh (Mat. 10:28). Kita semua adalah saksi Kristus, oleh karena itu seperti kata Tuhan Yesus Kristus, “berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh. 20:29). Keyakinan ini meneguhkan kita untuk menjadi saksi Yesus. Amin (sikpan sihombing)

*Tetap semangat, tetap berpengharan dan selalu bertekun dalam Doa*

1 KOMENTAR

  1. Terimakasih amang, Kiranya Roh Kudus tetap tercurah dalam hidup setiap orang percaya dan menjadi saksi atas sukacita keselamatan dari Allah melalui Tuhan Yesus Kristus Juru Selamat kita, Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here