Kasus Pengusaan Anak Oleh Mertua, Arist Merdeka Sirait : Tak Ada Hak Mertua Kembalikan M Kepada Orangtuanya

0
456
Foto : Ketua Komnas Ham Arist Merdeka Sirait dan Guntur S

IndependenNews.com, Asahan | Kasus Guntur Sinaga dengan mertuanya yang menguasai Putrinya masih tetap bergulir, pasalnya Mertua Guntur Sinaga dari Marga Simbolon tetap tidak mau menyerahkan M (Balita hasil perkawinanya dengan Istrinya, almh. br Simbolon-red) kepangkuan Guntur Sinaga.

Kasus pengusaan sepihak putri dari Guntur Sinaga, oleh mertua Guntur Sinaga marga Simbolon mendapat perhatian serius dari Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait.

Dia menegaskan berbicara Hukum, bahwa keluarga dari pihak mertua Guntur Sinaga, Marga Simbolon tidak ada hak untuk M, yang punya hak penuh hanyalah orangtuanya. Kecuali ayah dari M tersebut dalam kondisi sakit, atau ada melakukan kekerasan dan keterbelakangan mental. Dan pada kasus tersebut tidak bisa dikaitkan dengan marga (adat) karena tidak akan ada titik terang.

Dikatakan Arist, kepada ayah M (Guntur Sinaga-red), pihaknya akan menyampaikan kepada pihak mertua Guntur Sinaga marga Simbolon atas nama organisasi pihaknya ingin bertemu dengan M (balita-red) untuk mengetahui kondisi M saat ini.

“Saya ingin bertemu langsung dengan balita guna mengetahui kondisi kesehatan M saat ini. Kalau kondisinya sehat, maka kami menghimbau balita itu segera dikembalikan kepada ayahnya,”ujar Arist, pada Sabtu (19/3/22) bertempat di Avros Guest House Medan.

Tak hanya itu, ia bahkan menyampaikan dengan tegas bila tidak ada lagi negosiasi untuk pengambilan anak dari pihak mertua, setelah pihak psikolog memeriksa ayah M, dan hasil nya sehat, maka Arist menghimbau kepada pihak mertua Guntur Sinaga agar menyerahkan balita itu kepada orangtuanya secara baik-baik pula.

“Pada kasus ini, tambah Arist Merdeka Sirait, tidak ada tawar menawar perjanjian atau kesepakatan, Arist akan langsung mengatakan kepada pihak mertua serahkan M kepada orangtuanya, karena punya dasar hukum dan ayahnya punya kewajiban untuk mengasuh anaknya.”Tutup Arist

Pada pemberitaan sebelumnya, penyelesaian kasus pengusaaan M oleh Pihak marga Simbolon melalui jalur mediasi oleh penatua adat mengalami kegagalan. Karena pihak mertuanya, Marga Simbolon tidak memberi ruang untuk melakukan mediasi, bahkan jadwal pertemuan yang sudah disepakati dibatalkan pihak keluarga Mertuanya.

Merasa kasus ini tak dapat lagi diselesaikan melalui jalur musyawarah kekeluargaan, Guntur Sinaga (39) terus berupaya untuk memperjuangkan hak asuh sibuah hatinya M (4) bulan, ia lantas melakukan upaya jalur Hukum, untuk mendapatkan Sibuah Hati dari Mertuanya Marga Simbolon, yang berupaya mengusai paksa hak Asuh M dari Tangan Guntur Sinaga.

Bukan cuma Putrinya yang dikuasai mertuanya, Tapi juga semua barang-barang berharga yang mereka bangun selama berumah tangga dengan Istrinya Br Simbolon. Bukan maksudnya ingin berpisah dengan keluarga namun, alam yang berkehendak Istri yang ia cintai itu Almarhumah Br Simbolon telah lebih dahulu di panggil sang maha Pencipta. Namun sepeninggal istrinya masalah antara Guntur Sinaga dengan mertua nya semakin tak terbendung.

Pihak keluarga Mertua Guntur Sinaga, marga Simbolon menahan sibuah hatinya yang membuatnya susah lahir dan Batin. Atas dorongan kecintaanya dan keinginannya mengasuh putrinya dari hasil keringat nya, Guntur berupaya mendapatkan kembali putri anak keduanya dari mertua yang berlaku sewenang-wenang.

Sejak Mereka membatasi hubungan saya dengan putri saya, perasaan saya hancur karena memikirkannya setiap hari,” ujarnya kepada media ini sambil meneteskan air mata, Rabu (16/2/22) di Bilangan Medan_Sumut.

Mengingat hak asuh anak nya merupakan tanggung jawabnya, kata Guntur Sinaga, kini pikiran buntu dan hampa mulai hilang dari nya. Duka berantai keluarga mertua sudah mulai reda dan tinggal kenangan saja. Dia mulai berpikir tentang masa depan kedua buah hatinya.

“M harus berada dalam pengasuhan saya. Masa depannya harus berada di bawah perjuangan saya sebagai ayahnya, bukan di tangan siapa-siapa, termasuk bukan di tangan keluarga mertua. Karena M itu Boru Sinaga, bukan Boru Simbolon,” tegasnya dengan menghirup udara segar ia tampak sedikit lega

Karena berbagai upaya keluarga tidak menemui jalan tengah, akhirnya Guntur mengadukan persoalan yang dihadapinya kepada Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Medan, yang disambut ketuanya Alihot Sinaga.

Tidak sampai di situ, di hari valentine (kasih sayang), akhirnya Guntur Sinaga terpaksa melaporkan Ayah mertuanya ke Polda Sumatera Utara dengan STTLP/284/II/2022/SPKT/Polda Sumatera Utara, Tanggal 14 Februari 2022. SN-R.(ss)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here