Independennews.com | Semarang – Ruang pertemuan The Wujil Resort & Convention, Kabupaten Semarang, Rabu (1/10/2025), dipenuhi pejabat kabupaten/kota, pelaku industri, dan perwakilan dinas terkait. Mereka berkumpul dalam Rapat Koordinasi Bidang Perindustrian dan Perdagangan 2025. Namun kali ini bukan sekadar rapat rutin, melainkan titik tekan baru: mempercepat transisi menuju industri hijau di Jawa Tengah.
Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan dunia usaha tak bisa lagi bertumpu pada energi fosil. Transisi energi bersih, meski bertahap, harus segera dimulai.
“Kita dorong kawasan industri menggunakan energi terbarukan. Panel surya dan CNG (Compressed Natural Gas) menjadi langkah awal yang realistis,” ujarnya.
Menurutnya, pemanfaatan CNG sangat strategis. Selain lebih ramah lingkungan, energi ini tersedia melimpah di dalam negeri.
“Keunggulan CNG bukan hanya pada sisi emisi, tapi juga pada ketersediaannya. Kita tidak perlu bergantung impor,” jelasnya.
Dorongan ini sejalan dengan langkah PT Jateng Petro Energi (JPEN), BUMD andalan Pemprov Jateng, yang kini fokus memasok CNG. Energi tersebut sudah masuk ke berbagai lini: mulai dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), rumah tangga, hingga sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka).
Namun, Sumarno mengingatkan transisi hijau tidak cukup hanya dengan energi alternatif. Kepatuhan terhadap perizinan usaha dan Amdal tetap menjadi kunci.
“Pertumbuhan industri tidak boleh mengorbankan lingkungan. Semua harus berjalan seimbang,” ujarnya
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, menjelaskan makna program Rengganis Pintar (Revitalisasi Green Industry) yang sedang digulirkan. Program ini bukan sekadar jargon, tetapi sistem nyata untuk menyiapkan pelaku industri, khususnya IKM, agar siap memasuki era hijau.
“Di dalamnya ada forum konsultasi, komunikasi, hingga instrumen indeks siap hijau. Kami dampingi IKM, bahkan difasilitasi sertifikat hijau gratis, supaya mereka punya akses lebih luas ke pasar, termasuk ekspor,” tutur July.
Bagi industri kecil, sertifikasi hijau bukan sekadar stempel formalitas, melainkan tiket untuk menembus pasar ekspor yang makin ketat dengan isu lingkungan.
Di balik angka dan kebijakan, gema perubahan ini merambat jauh: dari pabrik-pabrik di kawasan industri, ke bengkel IKM di pinggiran kota, hingga dapur rumah tangga yang mulai beralih menggunakan energi bersih.
Jawa Tengah kini menapaki jalan baru: menjadi rumah industri yang bukan hanya tangguh secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan.
(Ganang)