Inilah Aek Naoto, Pemuas Dahaga Harimau dan Beruang Sumatera

Foto : Sungai Naoto

IndependenNews.com, Taput | Dua Desa di Kab.Tapanuli Utara (Taput) yakni Desa Rura Julu Dolok dan Rura Julu Toruan, Kec. Sipoholon, Sumut masih dikelilingi rimbunnya ribuan hektar hutan alam yang menyimpan kekayaan hayati.

Satu sungai selebar 10m mengalir melintasi dua desa ini disebut dengan “Aek Naoto” (Red-Air Bodoh). Disebut begitu, karena seringkali cuaca terlihat cerah namun tiba tiba sungai itu karap meluap.

Saat hari minggu atau hari libur, sungai akan terlihat ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati dinginnya aliran air dari atas pegunungan. Sungai ini bak ditembok dari susunan bebatuan besar, sehingga membentuk kolam sedalam satu meter. Tempat pengunjung untuk mandi sambil berenang.

Sungai ukuran kecil ini selain tempat pemandian, aliran Aek Naoto yang membelah rimbunnya hutan. Menjadi pelepas dahaga dari berbagai binatang yang dilindungi, semisal Harimau, Beruang, Rusa, kijang,
kera Siamang dan juga binatang unggas.

Juragan Simanungkalit warga desa Rura Julu Dolok minggu(24/4/2022) menyebutkan, hewan-hewan tersebut kerap masih terlihat warga. Baik saat minum maupun tengah hutan.

“Yang masih sering terlihat di hutan ini binatang seperti beruang, rusa, kera. Kalau Harimau, walau sudah jarang terlihat. Namun saya yakin masih ada, mengingat luasnya hutan yang belum terjamah,” sebut Juragan.

Dikatakan Jauragan Simanungkalit, bentangan hutan dan pengunungan yang belum dijamah ini berbatasan dengan hutan Kab Tapanuli Tengah (Tapteng). Dan hasil-hasil hutan tersebut dimanfaatkan warga untuk menunjang hidup masyarakat setempat.

“Warga disini hidup dari menyadap kemenyan, mengambil rotan, petai dan buah buahan hutan seperti langsat,”tuturnya.

Kendati demikian Juragan mengakui saat ini ada penebangan yang mengancam kekayaan alam hayati yang tersimpan dihutan kedua desa tersebut. Namun begitu dia tidak berdaya untuk mencegahnya, sebab kekuatan uang bermain.

“Ya memang ada penebangan, tapi apalah daya. Mereka yang punya uang,”ungkapnya.

Informasi yang didapat oleh Independentnews.com disekitaran hutan Sipoholon ada 3 aktivitas penebangan kayu kayu alam non tanaman industri. Yang mana tindakan penebangan itu dapat dipastikan akan merusak dan mengganggu ekosistim alam Hutan.
(Maju simanungkalit)

You might also like