Catatan Redaksi
Desember seharusnya menjadi bulan penuh sukacita. Namun bagi warga Desa Hutanabolon, 25 Desember 2025 justru menjadi hari ketika kehidupan mereka berubah selamanya.
Pagi itu air datang tanpa salam. Dari hulu sungai yang biasanya tenang, arus coklat pekat tiba-tiba menerjang permukiman. Dalam hitungan menit, halaman rumah berubah menjadi sungai. Teriakan saling bersahutan, anak-anak digendong, orang tua dituntun, sementara sebagian warga hanya bisa berdiri memandangi harta bendanya hilang satu per satu.
Rumah hanyut, Sepeda motor terseret.
Mobil terendam, Dokumen kependudukan lenyap bersama arus. Dan yang paling menyayat, beberapa warga tidak sempat menyelamatkan diri.
Sejak hari itu, Desa Hutanabolon seperti kehilangan waktunya sendiri. Kalender berjalan menuju 2026, tetapi duka belum ikut berlalu.
Tangis yang Viral, Luka yang Nyata
Video-video warga berteriak meminta tolong sempat beredar luas di media sosial. Banyak orang di berbagai daerah ikut merasakan kepedihan yang sama — bukan hanya melihat banjir, tetapi melihat manusia yang tiba-tiba kehilangan arah hidupnya.
Bantuan kemudian berdatangan. Relawan, anak-anak rantau, komunitas sosial, hingga pemerintah hadir membawa makanan, pakaian, dan kebutuhan darurat. Tangan-tangan asing menjadi penguat bagi warga yang bahkan tidak sempat menyelamatkan foto keluarga mereka.
Namun bantuan darurat tidak serta-merta menghapus trauma. Karena setelah air surut, kehidupan tidak otomatis kembali.
Perjuangan Memulihkan Desa
Pemerintah daerah mulai melakukan normalisasi sungai. Beberapa alat berat diturunkan untuk membuka aliran air yang tertutup material banjir. Aparat TNI dan Polri bersama warga bergotong royong membersihkan lumpur yang menutup jalan dan halaman rumah.
Harapan sempat tumbuh: mungkin desa akan pulih. Tetapi alam belum sepenuhnya bersahabat.
Banjir susulan masih datang berulang. Tidak sebesar sebelumnya, namun cukup untuk membuat warga kembali cemas setiap kali hujan turun. Malam hari menjadi waktu paling panjang — suara air lebih menakutkan daripada gelap.
Hidup dalam Ketidakpastian
Kini memasuki tahun 2026, sebagian warga masih hidup dengan rasa was-was. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga mata pencaharian.
Ladang rusak. Peralatan kerja hilang.
Ekonomi keluarga terhenti.
Warga berharap perhatian pemerintah tidak berhenti pada masa tanggap darurat saja, melainkan berlanjut hingga pemulihan ekonomi benar-benar dirasakan.
Harapan itu bahkan mereka titipkan kepada pemerintah pusat, berharap ada percepatan bantuan agar mereka dapat memulai hidup kembali — bukan sekadar bertahan.
Menunggu Kepastian..! Di tengah berbagai kabar mengenai bantuan yang akan turun, masyarakat masih menunggu kepastian nyata. Bagi mereka, yang dibutuhkan bukan sekadar janji, tetapi kesempatan untuk bangkit.
Karena bagi Hutanabolon, bencana bukan hanya soal air yang datang dan pergi.
Ia meninggalkan jeda panjang dalam kehidupan: antara kehilangan dan harapan.
Dan sampai hari ini, desa itu masih berusaha belajar kembali bagaimana caranya hidup tanpa rasa takut setiap kali hujan turun.
(Red)