IndependenNews.com – Humbahas | Puluhan meter pipa air minum yang merupakan pipa milik proyek Kelompok Swakelola Masyarakat (KSM) Desa Parsingguran II, yang berada di Dusun VII, Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), dilaporkan hangus terbakar, beberapa hari yang lalu.
Dikabarkan warga sekitar, penyebab utama terbakarnya pipa air minum tersebut lantaran sejak awal pemasangan, pipa dibiarkan mengambang di atas permukaan tanah.
“Jadi pipa dari sumber hingga ke ujung jalan itu tak ditanam, hanya diletakkan begitu saja. Panjangnya ratusan meter. Jadi kemarau kemarin, tiba-tiba semak belukar di sekitar pipa terbakar, dan pipa pun ikut terbakar”, terang narasumber di lapangan, Senin (7/7/2025).
Narasumber itu melanjutkan, hingga saat ini, penanganan terkait insiden kebakaran itu, belum ada dilakukan. Alhasil, pasokan air minum yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat terutama di musim kemarau ini menjadi terganggu.
Banyak dari masyarakat yang terpaksa mencari air hingga kiloan meter untuk kebutuhan rumah tangga mereka.
“Kami keluar dari Dusun VII ini ke arah Tambok Bolon yang jauhnya sekitar 4 km untuk menjemput air. Kami gunakan jerigen besar”, ungkap warga.
Pun sebenarnya sebelum pipa itu terbakar, beber narasumber tersebut, kebutuhan air di lokasi itu cenderung kurang. Pasalnya, sejak dibangun dari pertengahan tahun 2024 lalu, kata dia, debit air yang dihasilkan dari pipa air minum itu tidak pernah penuh.
“Lain lagi sering ada gangguan. Kadang bendungannya longsor, kadang pipa patah atau pecah, dan sebagainya”, sambung warga itu.
Sementara untuk diketahui, proyek KSM Desa Parsingguran II yang ditandatangani Kades Sabar Banjarnahor ini, dan diketuai orang yang dekat dengan mantan Bupati 2 Periode Humbahas Dosmar Banjarnahor, Andri Sinambela, sudah sering muncul ke media massa.
Dirangkum dari berbagai sumber dan keterangan masyarakat sekitar, sejak awal pengerjaan proyek ini, diduga sudah menjalani sejumlah kejanggalan.
Selain banyaknya pipa yang tidak dikubur, banyak juga masyarakat yang bekerja tak diberikan upah walau sepeser pun padahal pagu proyek mencapai Rp 450.000.000,-.
Tak hanya itu, sejak mulai dikerjakan hingga kini, air yang begitu dinantikan warga sekitar, belum pernah dinikmati masyarakat secara luas.
Selain kualitas proyek yang dituduh minim, sumber air juga pernah menuai sorotan. Air diketahui berasal dari hamparan persawahan warga, yang di lokasinya sering terjadi aktivitas dinamika pertanian. Selain penanaman jagung, padi, dan cabe, di lokasi juga marak penyemprotan pestisida dan insektisida.
Ironisnya, di hulu air, banyak juga masyarakat yang mengembalakan kerbau di sekitar aliran air. Kerbau-kerbau bahkan banyak membuat kubangan untuk mandi lumpur di hulu aliran air tersebut.
Sementara Kadis Perumahan dan Kawasan Pemukiman Kabupaten Humbahas Anggiat Manullang, sudah berkali-kali dimintai keterangan terkait sejumlah kecaman proyek KSM Desa Parsingguran II tersebut. Sayangnya, hingga kini, Anggiat tetap bungkam, dan justru melalui informasi yang beredar, anggaran untuk proyek tersebut malah sudah dicairkan. (Rachmat Tinton)