Pemuda berinisial MC (21) diduga dalam keadaan mabuk berat setelah menenggak minuman keras. Setibanya di rumah, ia mencari minyak rambut miliknya yang tak kunjung ditemukan. Diduga karena frustrasi dan kehilangan kendali, amarahnya meledak. Ia mengamuk, merusak perabot rumah, hingga akhirnya melampiaskan kekesalan dengan cara tragis — menikam tangan ibunya menggunakan sebilah badik.
Sang ibu yang hanya berusaha menenangkan dan menasihati anaknya, justru menjadi korban kekerasan yang tak terbayangkan. Luka tusukan cukup dalam membuat korban harus segera dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat perawatan intensif.
Kasat Reskrim Polresta Mamuju, AKP Agustinus Pigay, membenarkan peristiwa memilukan tersebut.
“Benar, telah terjadi kasus penganiayaan dalam rumah tangga yang melibatkan anak terhadap ibu kandungnya. Pelaku sudah kami amankan bersama barang bukti sebilah badik,” jelasnya kepada wartawan.
Menurut AKP Agustinus, pelaku kini tengah menjalani pemeriksaan intensif di Mapolresta Mamuju. Selain mengamankan barang bukti, pihak kepolisian juga akan melakukan tes urine dan pemeriksaan medis untuk memastikan kadar alkohol atau kemungkinan penggunaan zat terlarang lain oleh pelaku.
“Kami juga akan melakukan pendalaman terkait latar belakang emosional dan kondisi psikologis pelaku,” tambahnya.
Kasus ini menyita perhatian masyarakat setempat. Warga sekitar mengaku tidak menyangka MC bisa berbuat sekejam itu terhadap ibunya sendiri. Mereka mengenalnya sebagai pemuda pendiam, meski belakangan diketahui sering mengonsumsi minuman keras.
Peristiwa ini menjadi potret kelam dampak penyalahgunaan miras yang kerap berujung pada tindak kekerasan dalam keluarga. Tidak hanya merusak tubuh, minuman beralkohol juga mengikis kendali diri dan kasih sayang dalam hubungan darah.
Kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan kondisi keluarga dan perilaku anak muda, agar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas dan konsumsi alkohol yang berlebihan.
“Kekerasan bukan solusi. Pengendalian emosi dan kepedulian keluarga sangat penting untuk mencegah tragedi seperti ini,” tutup AKP Agustinus.
Kini, sang ibu masih menjalani perawatan medis, sementara anak kandungnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum — sebuah kisah tragis yang meninggalkan luka, bukan hanya di tubuh sang ibu, tetapi juga di hati masyarakat Mamuju. (mf)