dr. Lismawati, Dokter yang Menukar Kekuasaan dengan Kehangatan Pasien dan Keluarga

Independennews.com | Padang Panjang – Di balik sorot mata teduh dan senyum lembutnya, tersimpan kisah pengabdian yang menyejukkan hati. Dialah dr. Lismawati R., M.Biomed., Sp.PA, seorang dokter yang pernah duduk di kursi megah Direktur RSUD, namun kini memilih kembali mengabdi dari ruang sederhana sebuah puskesmas.

Banyak yang tak percaya. Dahulu, ia memimpin roda besar rumah sakit: rapat penting, keputusan krusial, hingga hiruk-pikuk administrasi. Ruang kerjanya sejuk ber-AC, kursinya empuk, dan statusnya terhormat. Namun setelah masa jabatannya usai, Lismawati menempuh jalan berbeda—kembali menyatu dengan masyarakat di puskesmas yang sederhana, Sabtu (27/09).

“Dokter tetaplah dokter. Tugas saya melayani, bukan mencari pangkat,” ucapnya lirih, dengan senyum yang meneduhkan.

Kini, setiap pagi Lismawati menyapa pasien dengan hangat, seperti seorang ibu menyambut anaknya. Senyumnya bukan basa-basi, melainkan doa dalam diam. Tangannya bukan sekadar meresepkan obat, tetapi juga menyalurkan ketulusan yang menumbuhkan harapan.

“Kalau melihat pasien tersenyum lega setelah saya obati, rasanya lebih berharga dari jabatan apa pun,” katanya.

Tak jarang ia turun langsung ke sekolah-sekolah, menemui murid dan guru, berbicara tentang kesehatan, mendengarkan keluh kesah mereka. Baginya, dokter bukan hanya penyembuh di ruang klinik, tetapi sahabat yang hadir di tengah masyarakat.

Di balik langkah pengabdiannya, terselip pula anugerah besar: waktu. Waktu yang dulu habis untuk berkas-berkas tebal dan rapat maraton, kini bisa ia berikan untuk keluarga.

“Alhamdulillah, saya bisa lebih sering bersama anak-anak. Itu kebahagiaan yang tak bisa saya ukur dengan jabatan setinggi apa pun,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.

Di tengah budaya birokrasi yang sering mengagungkan gengsi, Lismawati menghadirkan pesan berbeda: pengabdian sejati tak selalu butuh panggung besar. Justru dari lorong kecil puskesmaslah lahir harapan besar bagi rakyat kecil.

Lorong itu kini menjadi saksi setiap tatapan dan senyumnya. Pesan yang ia tinggalkan sederhana namun dalam: jabatan boleh silih berganti, tetapi hati yang ikhlas akan selalu abadi.

dr. Lismawati adalah cermin kesederhanaan—dokter yang rela turun dari kursi megah demi duduk di meja kerja sederhana, semua demi satu hal: melayani. Kisahnya bukan sekadar cerita, tetapi pengingat bagi kita semua bahwa pengabdian sejati sering lahir dalam kesunyian, tanpa tepuk tangan, tanpa sorak sorai. Dan di sanalah, air mata haru jatuh tanpa bisa ditahan.
(Dioni)

You might also like