Klarifikasi Wartawan Soal Dugaan Guru Cekik Siswa di Parsingguran, Pengakuan Teman Sekelas Korban: RS Sering Marah di Kelas Hingga Kerap Pukul Siswa

IndependenNews.com – Humbahas | Kasus dugaan kekerasan oknum guru terhadap siswa UPT SD Negeri 045 Parsingguran II di Desa Parsingguran II, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, sejatinya telah selesai karena sudah berdamai melalui cara restoratif justice, Selasa (4/2/2025).

Namun di platform media sosial Facebook, netizen masih mempertanyakan dan menyudutkan wartawan, bahwa seolah-olah kata ‘diduga dicekik’ adalah karangan penulis.

Kali ini penulis akan menguraikan atau mengklarifikasinya!

Proses mediasi antara pelaku RS (59) dengan keluarga korban DS (11) digelar di Mapolsek Pollung.

Kedua belah pihak sepakat berdamai dan saling memaafkan karena kedua belah pihak masih ditenggarai ikatan kekeluargaan.

Berdasarkan keterangan yang termuat di surat perdamaian mereka, RS sudah mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Ia juga membantah tuduhan tentang bahwa dirinya melakukan pencekikan kepada korban.

RS mengurai, bahwa ia hanya menendang pada bagian pantat dan mencengkram leher baju dan secara tidak sengaja kukunya melukai leher DS.

Sesuai pengakuannya, sikap tersebut ia lakukan lantaran dirinya capek mengajar dari pagi. Di les ke empat dan ke lima, RS mendapati DS dan temannya bermain-main di kelas hingga menimbulkan keributan di dalam kelas. Sehingga RS langsung mencengkram baju korban dan menendang bokongnya.

Lalu mengapa di awal kasus itu muncul kata ‘diduga dicekik’?

Penulis ingin menyampaikan, bahwa munculnya informasi tersebut adalah merupakan hasil wawancara awak media dengan siswa teman sekelas korban.

Melalui hasil penelusuran wartawan yang direkam video, puluhan siswa-siswi mengaku melihat korban DS dicekik RS.

Tak hanya satu atau dua orang, nyaris keseluruhan siswa di kelas VB itu, mengaku melihat RS mencekik leher DS seraya menyeret ke luar kelas. Lalu RS menendang bokong korban.

Masih pengakuan murid, RS termasuk guru yang kerap marah-marah kepada siswa di kelas itu. Dan hampir keseluruhan mereka mengakui sudah dipukul guru bidang studi PJOK tersebut.

“Benar pak (sering dipukul). Ibu itu suka marah-marah tiap ngajar”, tandas beberapa murid. (Rachmat Tinton)

You might also like