Independennews.com | Batam – Di tengah derasnya sorotan publik terhadap Ketua DPRD Kepulauan Riau, Iman Sutiawan, masyarakat diajak untuk melihat persoalan ini dengan hati yang lebih tenang dan sudut pandang yang lebih bijaksana.
Apa yang terjadi di jalan raya tentu menjadi catatan dan pelajaran penting, terutama bagi seorang pejabat publik yang memang dituntut menjadi teladan. Namun di balik satu peristiwa yang viral itu, ada perjalanan panjang pengabdian yang selama ini juga layak dihargai dan diingat oleh masyarakat.
Iman Sutiawan bukan sosok yang hadir tiba-tiba dalam kehidupan masyarakat Kepulauan Riau. Selama bertahun-tahun, ia dikenal aktif turun ke tengah masyarakat, mendengar keluhan warga, hadir dalam berbagai kegiatan sosial, serta ikut memperjuangkan pembangunan daerah.
Karena itu, rasanya kurang adil jika seluruh dedikasi dan kerja keras yang telah dibangun selama ini seolah hilang hanya karena satu kekhilafan yang kini menjadi konsumsi publik.
Sebagai manusia, setiap orang tentu tidak luput dari kesalahan. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menyikapi kesalahan tersebut. Dalam persoalan ini, Iman Sutiawan dinilai bersikap kooperatif, menerima proses yang berjalan, menghormati tindakan aparat, dan tidak menggunakan jabatan ataupun pengaruh kekuasaan untuk menghindari konsekuensi hukum.
Sikap tersebut justru menunjukkan penghormatan terhadap aturan dan proses hukum yang berlaku.
Langkah Majelis Kehormatan DPP Partai Gerindra yang memberikan teguran tertulis juga menandakan bahwa mekanisme organisasi berjalan sebagaimana mestinya. Persoalan telah diproses secara internal dengan pendekatan pembinaan, bukan untuk menjatuhkan, melainkan menjadi pengingat agar ke depan lebih berhati-hati dan memberi contoh yang lebih baik kepada masyarakat.
Di era media sosial hari ini, sering kali seseorang dinilai hanya dari potongan video beberapa detik tanpa melihat perjalanan hidup dan pengabdiannya secara utuh. Padahal, seorang pemimpin juga manusia biasa yang bisa khilaf, lelah, atau lalai dalam satu momentum tertentu.
Masyarakat tentu berhak mengkritik, karena kritik adalah bagian dari demokrasi. Namun kritik yang sehat semestinya tetap mengedepankan rasa kemanusiaan, keadilan, dan tidak berubah menjadi penghakiman yang menghapus seluruh sisi baik seseorang.
Banyak masyarakat Kepulauan Riau yang mengenal Iman Sutiawan sebagai pribadi yang dekat dengan rakyat, mudah bergaul, dan tidak membatasi diri dengan masyarakat kecil. Di berbagai kesempatan, ia kerap hadir dalam kegiatan sosial, membantu warga, serta membangun komunikasi tanpa sekat.
Karena itu, peristiwa ini diharapkan tidak menjadi alasan untuk saling menjatuhkan secara berlebihan, melainkan menjadi pengingat bersama bahwa siapapun—termasuk pejabat publik—tetap harus belajar menjadi lebih baik setiap harinya.
Yang paling penting hari ini bukan mencari siapa yang paling sempurna, melainkan bagaimana setiap orang memiliki keberanian untuk menerima kritik, bertanggung jawab atas kekhilafan, dan terus memperbaiki diri demi tetap menjaga kepercayaan masyarakat.
Pada akhirnya, masyarakat Kepulauan Riau tentu berharap Iman Sutiawan tetap dapat melanjutkan pengabdiannya dengan lebih bijak, lebih hati-hati, dan tetap dekat dengan rakyat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan politik dan sosialnya.[Red]