Independennews.com | Padang Panjang — Menyatukan Kata, Budaya, dan Karakter Melalui Gerakan Sastra Internasional. Kilau literasi kembali menyinari Kota Serambi Mekkah. Pada Kamis, 23 Oktober 2025, SMKN 2 Padang Panjang tampil gemilang sebagai tuan rumah Workshop Literasi Lintas Negara, sebuah kegiatan yang memadukan semangat pendidikan, budaya, dan seni dalam harmoni kata yang mempesona.
Kegiatan bertaraf internasional ini menghadirkan Puan Shirley Idris, penyair dan penari kenamaan asal Malaysia yang dijuluki “Ratu Puisi Tari”, serta Bunda Sastri Bakry, Ketua DPD I Pena Sumbar sekaligus tokoh literasi yang konsisten menebarkan semangat membaca dan menulis di kalangan pelajar.
Sejak pagi, suasana sekolah terasa hidup. Senyum siswa-siswi merekah, sambutan para guru mengalir hangat, sementara aula utama dipenuhi aura semangat yang menular. Dalam ruangan itu, kata dan budaya berpadu indah — menegaskan bahwa literasi bukan sekadar kegiatan akademik, melainkan perjalanan batin untuk memahami makna kehidupan.
Kepala SMKN 2 Padang Panjang, Yusma Elda, tampak memancarkan kebanggaan.
“Hari ini kami tidak hanya menerima tamu, tetapi juga menerima cahaya pengetahuan dari dunia internasional. Literasi telah menjembatani kita melampaui batas negara dan bahasa,” ujarnya penuh semangat.
Ia menambahkan, SMKN 2 Padang Panjang berkomitmen menjadi sekolah yang menggabungkan keunggulan keterampilan dengan kekuatan karakter.
“Dengan seni dan budaya, hati menjadi halus dan lembut. Hati yang halus akan melahirkan karakter yang baik, dan dari sanalah lahir generasi yang beradab,” tuturnya tulus.
Suasana workshop semakin hangat ketika puisi “Gelombang Matahari” karya Bunda Sastri Bakry dibacakan oleh Nova Amanda, siswi SMKN 2 Padang Panjang. Lantunan puisinya menggetarkan ruang, memantik tepuk tangan panjang dari seluruh peserta. Sementara itu, Puan Shirley Idris berbagi kisah perjalanan seninya di Malaysia dan berbagai negara — menunjukkan bahwa bahasa seni dan sastra adalah bahasa universal yang menyatukan perbedaan.
Acara turut dihadiri para pegiat literasi, guru pembina, dan siswa-siswi yang antusias mengikuti sesi tanya jawab. Dari setiap interaksi, terlihat semangat baru tumbuh: semangat untuk menulis, membaca, dan mencintai budaya sendiri.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan penyerahan kenang-kenangan kepada narasumber dari masing-masing sekolah. Namun lebih dari itu, acara ini meninggalkan kesan mendalam — bahwa SMKN 2 Padang Panjang kini telah menjadi lentera literasi lintas negara, tempat di mana kata dan karakter berpadu membentuk insan berbudaya.
“Ketika hati bersentuhan dengan sastra, di sanalah manusia menemukan dirinya,” ujar Yusma Elda menutup acara dengan senyum penuh makna.
(Dioni)