Independennews.com | Semarang – Dari kejauhan, suara gemuruh air jatuh berpadu dengan desiran angin pegunungan. Curug Kembar Baladewa di Desa Wirogomo, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, menyambut setiap pengunjung dengan panorama dua aliran air setinggi 50 meter yang jatuh berdampingan. Udara sejuk, hutan rimbun, serta kejernihan air dari sumber Gunung Kelir menjadikan tempat ini bak oase di tengah rutinitas.
Namun Curug Baladewa bukan hanya menawarkan keindahan alam. Di kaki gunung yang diapit Kelir, Kendil, dan Telomoyo, terdapat sumber belerang yang masih aktif, menambah kesan eksotis. Dari lerengnya, mata bisa menyapu keindahan Rowo Pening yang terbentang biru.
Kini, keindahan itu dihidupkan lewat cara baru: olahraga canyoning. Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM UNNES) melihat potensi besar dan menggandeng komunitas pecinta olahraga ekstrem untuk menuruni tebing, menelusuri sungai, hingga melintasi air terjun dengan tali dan perlengkapan khusus.
“Canyoning bukan sekadar olahraga ekstrem, tapi cara lain mengenali Curug Wirogomo. Kami ingin ini menjadi daya tarik wisata baru,” ujar Althea Syahriza, Ketua Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa BEM UNNES.
Langkah itu tak berhenti pada aktivitas ekstrem semata. Warga sekitar dilibatkan melalui pelatihan pengelolaan wisata, sementara media luar ruang dipasang di jalur utama menuju Telomoyo. Harapannya, wisatawan yang melintas tertarik singgah sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak gunung.
Dalam waktu dekat, sebuah trial run canyoning akan digelar. Agenda perintis ini diharapkan berkembang menjadi event tahunan, menjadikan Curug Baladewa bukan hanya destinasi indah, tapi juga ruang lahirnya komunitas petualangan baru.
Bagi masyarakat Wirogomo, geliat ini berarti lebih dari sekadar wisata. Ada harapan tumbuhnya ekonomi lokal, ada rasa bangga menjaga alam warisan leluhur. Di tengah derasnya air terjun dan tawa para petualang, desa kecil di kaki Gunung Kelir itu menemukan cara baru bercerita—lewat olahraga yang menantang sekaligus menyatukan manusia dengan alam.
(Ganang)