Independennews.com | Semarang — Di malam Jum’at Kliwon yang diguyur gerimis halus, cahaya blencong menari lembut di atas kelir. Suara gamelan mengalun lirih, mengiringi Pagelaran Wayang Kulit Malam Jum’at Kliwon ke-331. Gelaran yang diinisiasi Teater Lingkar Semarang bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang ini menjadi penanda bahwa tradisi tak pernah benar-benar usang—hanya menunggu tangan-tangan setia yang terus menjaga nyalanya.
Dalam suasana hangat dan penuh kekhidmatan, Kabid Kebudayaan Disbudpar Kota Semarang, Saroso, menyerahkan sepasang wayang secara simbolis kepada dalang muda asal Semarang, Ki Sindhunata Gesit Widiharto, S.Sn., M.Si.
Gestur sederhana tersebut sarat pesan: estafet kebudayaan terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Pagelaran ini bukan sekadar tontonan, tetapi wujud ketekunan menjaga amanah leluhur. Kami bangga karena anak-anak muda seperti Teater Lingkar dan Sindhunata masih memelihara warisan ini dengan penuh cinta,” ujar Saroso.
Lebih dari tiga ratus kali malam Jum’at Kliwon telah dilalui Teater Lingkar dengan gelaran serupa. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya hitungan waktu. Namun bagi mereka yang memahami maknanya, itu adalah bentuk keteguhan dalam menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah denyut cepat kota Semarang.
Sindhunata, sang dalang muda, membawakan lakon dengan gaya khas—lincah, penuh greget, namun tetap sarat pesan moral.
“Tetap menjaga tradisi, ngestoke dhawuh leluhur. Jagad pewayangan adalah potret diri kita,” tuturnya, mengutip falsafah yang menjadi napas perjalanan panjang dunia pedalangan.
Pagelaran malam itu bukan hanya hiburan rakyat. Ia menjadi ruang permenungan kolektif tentang siapa kita, dari mana akar kita tumbuh, dan bagaimana kebudayaan bekerja sebagai cermin kehidupan. Teater Lingkar bersama Disbudpar Kota Semarang menunjukkan bahwa menjaga budaya tidak selalu berarti melawan zaman—kadang, cukup dengan terus menyalakan blencong agar bayangan di kelir tak pernah padam.
(Ganang)