Dosen Jurnalistik UIN SU: Warga Jangan Takut Kepada Wartawan

0
91

HAMPARAN PERAK, Munculnya wartawan gadungan (wargad) atau jurnalis abal-abal di desa kawasan Kec. Hamparan Perak, Kab.Deli Serdang menjadi sorotan berbagai lapisan masyarakat serta pejabat. Ini bisa menjadi imez buruk terbangunnya kepercayaan publik terhadap Pers, Senin (11/1/2021).

“Tandai wargad atau jurnalis abal-abal. Biasanya orang-orang yang mengaku wartawan mendatangi pejabat hanya mencari kesalahan saja. Mereka itu tidak melakukan tugas dan fungsinya sebagai seorang jurnalis melainkan hanya mencari-cari kesalahan dan meminta uang,” kata Dosen Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Bustami Manurung.

Ditegaskan, Bustami Manurung, telah menjadi rahasia umum, kalau wargad atau jurnalis abal-abal tersebut sama sekali tidak mempunyai wawasan serta tak berbekal ilmu mumpuni. Ini terlihat saat mereka wawancara tak fokus pada pokok persoalan yang akan ditanyakan kepada narasumber.

“Seorang wartawan atau jurnalis beneran selalu menjalankan tugas dan fungsinya yakni mencari dan menyajikan informasi untuk masyarakat dengan cara-cara profesional dan bermartabat. Sebab seorang jurnalis yang baik, dia selalu memegang etika atau kode etik jurnalistik,” jelas Bustami Manurung kepada wartawan.

Tak hanya itu, dalam berpenampilan pun seorang wartawan profesional biasanya tidak terlalu mencolok. Tutur kata dan tindak-tanduknya selalu dijaga. Berbeda dengan wargad atau jurnalis abal-abal yang biasanya berpenampilan mencolok dan tidak memperhatikan etika atau kode etik jurnalistik.

Menurutnya, seorang jurnalis beneran itu penampilannya membuat simpatik orang. Dan mereka bekerja di satu media yang sudah terverifikasi oleh Dewan Pers dan memiliki sertifikasi UKW (Uji Kompetensi Wartawan). Kalau ngaku wartawan, tapi tidak punya media dan tidak tersertifikasi, itu bukan wartawan. Jadi wartawan yang bener itu tidak mudah, tidak bisa asal punya kartu,” jelas Bustami Manurung lagi.

Dalam hal ini, masyarakat atau pejabat jangan takut kepada wartawan. Wartawan bukanlah mahluk yang menyeramkan. Mereka hanya menjalankan tugas jurnalistiknya yang dibentengi dengan undang-undang.

“Masyarakat agar jangan takut kalau ketemu orang yang mengaku wartawan. Kalau misalkan sampai memeras atau ngancam-ngancam, laporkan saja. Jangan takut, karena itu pasti bukan wartawan,” kata Bustami Manurung yang juga Ketua Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kota Medan.

Ia menambahkan, seorang wartawan profesional ketika memberitakan pun selalu memperhatikan aturan main, diantaranya keberimbangan berita (cover both side) dan selalu memverifikasi kebenaran suatu informasi sebelum dipublikasikan. Hal itu berbeda dengan jurnalis abal-abal yang asal memberitakan tanpa memperhatikan aturan-aturan yang berlaku.

“Jadi ketika produk wartawan atau media yang bener itu misalkan nara sumber keberatan dengan isi pemberitaan, itu tidak bisa dipidana. Prosesnya itu sampaikan keberatan kepada media bersangkutan atau ke Dewan Pers untuk meminta hak jawab dan lain-lain.

Nah kalau wartawan dan medianya enggak bener, itu bisa kena delik pidana. Laporkan saja,” tambah Bustami Manurung (MD).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here