Dari Naruto hingga Digimon, Ribuan Penonton Bernyanyi Bersama di Konser ke-4 “an Anime Symphony: Re-Awakening”

Independennews.com | Jakarta — Jakarta Concert Orchestra (JCO) kembali sukses
menggelar konser bertajuk “Anime Symphony: Re-Awakening”, yang menjadi konser
keempat dalam rangkaian Anime Symphony sejak pertama kali diperkenalkan pada
tahun 2023. Digelar di Graha Bhakti Budaya, Jakarta, pada hari Minggu, 25 January
2026, konser ini berlangsung dalam dua pertunjukan pada pukul 15.30 WIB dan 19.30
WIB. Antusiasme publik terlihat sejak awal penjualan tiket, yang habis terjual dalam

waktu kurang dari satu jam, membuat JCO menghadirkan show kedua di hari yang
sama. Kedua pertunjukan tersebut akhirnya dihadiri total sekitar 2.000 penonton.
Dikonduktori oleh Maestro Avip Priatna, Jakarta Concert Orchestra berkolaborasi
bersama Batavia Madrigal Singers (BMS) dan The Resonanz Children’s Choir
(TRCC), dan TRCC Serunai serta menghadirkan para solis Farman Purnama,
Sherina D. Saragih, Melody Kirei Alam dan Magnif Silitonga sebagai violinist.
Repertoar yang dibawakan mencakup berbagai lagu ikonik dari film dan serial anime,
yang telah menjadi bagian dari memori kolektif lintas generasi.
Konser dibuka dengan “Crescent Moon Dance” dari anime Hibike! Euphonium yang
dibawakan dengan lantunan orkestra yang megah dan menyentuh. Aransemen ini
langsung menciptakan suasana sinematik sejak nada pertama, menghadirkan
pembukaan yang kuat sekaligus emosional bagi keseluruhan pertunjukan. Nuansa
tersebut kemudian berlanjut lewat lagu “Rose” dari anime NANA yang dinyanyikan oleh
Melody Kirei Alam, dengan vokal yang ekspresif dan penuh perasaan, memperdalam
atmosfer nostalgia yang mulai terbangun di dalam gedung pertunjukan.

Rangkaian pembukaan semakin dinamis ketika “Snowy Fairy” dari anime Fairy Tail
dibawakan oleh Adam Novarin, Andreas Tamba, dan Leonardo Imanuel. Penampilan
trio ini tampil mencuri perhatian, tidak hanya melalui harmonisasi vokal mereka, tetapi
juga lewat kostum khas yang terinspirasi dari karakter dalam anime Fairy Tail,
menambah elemen visual yang memperkaya pengalaman menonton.

Tak kalah dengan penampilan solis lainnya, Magnif Silitonga tampil sebagai solois
biola dengan membawakan lagu “Ue” dari anime Haikyuu!!. Permainan biola yang
intens namun tetap lembut menghadirkan ketegangan emosional yang penuh energi,
dan disambut dengan tepuk tangan hangat dari penonton.
Memasuki paruh kedua konser, suasana di dalam gedung pertunjukan berubah menjadi
lebih hangat dan cair. Segmen ini dibuka dengan penampilan TRCC Serunai, paduan
suara anak-anak yang tampil dengan ekspresi ceria dan gerak yang lincah. Kehadiran
mereka langsung mencuri perhatian penonton, menghadirkan nuansa menggemaskan
sekaligus menyegarkan sebagai transisi yang kontras namun menyenangkan setelah
rangkaian musik di paruh pertama konser.
Suasana riang tersebut berlanjut ketika lagu pembuka dari anime Crayon Shin-chan
dibawakan. Sejak nada awal terdengar, respons penonton langsung terasa senyum,
tawa, dan nyanyian spontan mengisi seluruh ruangan. Penonton dari berbagai usia ikut
bernyanyi bersama, menciptakan momen kebersamaan yang ringan dan penuh
nostalgia. Interaksi alami antara panggung dan audiens di segmen ini mempertegas
bahwa Anime Symphony: Re-Awakening tidak hanya menghadirkan pertunjukan
musikal, tetapi juga ruang berbagi emosi dan kenangan kolektif.

Setelah momen riang tersebut, konser kembali bergerak ke suasana yang lebih reflektif
dan emosional melalui rangkaian lagu berikutnya. “Journey of a Lifetime” dari anime

Frieren: Beyond Journey’s End dibawakan dengan aransemen yang tenang dan
kontemplatif oleh Jakarta Concert Orchestra, menghadirkan nuansa perjalanan dan
perenungan yang terasa mendalam di dalam ruang pertunjukan. Atmosfer tersebut
kemudian beralih menjadi lebih cerah lewat “Platinum” dari anime Cardcaptor Sakura,
yang dibawakan bersama Batavia Madrigal Singers dan The Resonanz Children’s Choir,
menghadirkan warna vokal yang ringan namun penuh energi.
Salah satu tantangan dalam konser ini terletak pada kolaborasi bersama The Resonanz
Children’s Choir (TRCC), yang menuntut pendekatan artistik dan pedagogis yang
cermat. Avip Priatna menjelaskan bahwa bekerja dengan paduan suara anak-anak
memerlukan proses latihan yang lebih intens, terutama ketika membawakan repertoar
berbahasa Jepang yang dipadukan dengan unsur koreografi. Tantangan ini justru
menjadi bagian penting dari proses kreatif, karena selain menjaga ketepatan musikal,
para anggota TRCC juga dilatih untuk membangun disiplin, kepercayaan diri, dan
kekompakan saat tampil di atas panggung.

Cerita menarik juga datang dari balik layar latihan lagu “Kaikai Kitan” dari anime Jujutsu
Kaisen yang dibawakan oleh Batavia Madrigal Singers (Male). Menurut Avip Priatna,
lagu ini sempat hampir dihilangkan dari daftar lagu karena tingkat kesulitannya yang
tinggi. Lirik berbahasa Jepang yang cepat dan kompleks membuat para penyanyi
berkali-kali mengalami kesulitan dalam latihan. Hingga akhirnya, Hadar Satya Purusa,
salah satu anggota BMS, menjadi satu-satunya yang mampu menghafal dan
menyanyikan lagu tersebut dengan lancar. Dari situ, konsep penampilan diubah: Hadar

tampil sebagai solo, didukung oleh rekan-rekannya di choir, menghasilkan penampilan
yang justru menjadi salah satu sorotan konser.
Salah satu sorotan konser adalah kejutan lagu “Blue Bird” dari anime Naruto, yang
dibawakan di luar daftar resmi program. Momen ini disambut meriah oleh penonton yang
langsung bernyanyi bersama, sambil hampir seluruh penonton menyalakan dan
mengangkat light stick mereka, menciptakan pemandangan visual yang kuat dan
serempak di dalam gedung pertunjukan.

Memasuki bagian penutup, lagu “Zenzenzenze” dari film anime Kimi no Na wa
dibawakan dan mengundang penonton untuk bernyanyi bersama. Meski masih
duduk, antusiasme penonton terasa kuat dan ditutup dengan standing applause yang
memenuhi ruang pertunjukan. Sambutan tersebut berlanjut ke sesi encore, yang
kemudian ditutup dengan lagu “Butterfly” dari anime Digimon. Pada lagu penutup ini,
seluruh penonton berdiri dan bernyanyi bersama, mengakhiri konser dalam suasana
penuh nostalgia dan kebersamaan.
Selain pengalaman musikal yang kuat, konser Anime Symphony: Re-Awakening juga
diramaikan oleh penonton yang hadir dengan berbagai kostum cosplay,
memperlihatkan keberagaman ekspresi dan kecintaan terhadap dunia anime.
Kehadiran elemen visual ini semakin memperkuat karakter konser sebagai ruang
pertemuan antara musik, budaya pop, dan komunitas penggemar anime.

Avip Priatna Mag. Art., selaku Direktur Musik The Resonanz Music dan
Konduktor Jakarta Concert Orchestra, mengungkapkan bahwa setiap
konser Anime Symphony selalu dirancang dengan pendekatan yang
berbeda.
“Setiap kali kami menggelar Anime Symphony, selalu terasa bahwa masih
begitu banyak lagu anime yang belum sempat dibawakan. Karena itu, di
setiap konser kami selalu berusaha menghadirkan playlist yang baru, yang
paling spesial, dan yang paling sesuai dengan audiensnya. Bagi saya,
menghadirkan sebuah pertunjukan yang baik tidak selalu harus berangkat
dari tema yang sangat spesifik. Selama keseimbangan berbagai genre musik
dijaga, semuanya tetap bisa dinikmati bersama. Kami sangat berterima kasih
atas antusiasme luar biasa dari para penonton malam ini, energi yang
mereka berikan benar-benar terasa di atas panggung.”(*)

You might also like