Independennews.com | Demak – Di sebuah sudut GOR Desa Katonsari, aroma kopi bercampur dengan percakapan warga. Tanpa jarak pangkat dan tanpa formalitas berlebihan, polisi dan warga duduk melingkar, berbagi cerita tentang keresahan sehari-hari. Inilah wajah baru pendekatan Kepolisian Resor (Polres) Demak melalui program mingguan “Ngopi Bareng”.
Kapolres Demak, AKBP Ari Cahya Nugraha, hadir bukan dengan pidato panjang, melainkan dengan telinga yang terbuka. “Kami ingin mendengar langsung apa yang menjadi keluhan warga, sekaligus mencari jalan keluar bersama,” ujarnya, Jumat (12/9).
Program ini lahir dari kebutuhan sederhana: menghadirkan rasa aman yang tumbuh dari kebersamaan, bukan sekadar patroli. Menurut Ari, Kamtibmas bukan hanya soal polisi yang berjaga, tetapi juga kesadaran kolektif warga menjaga lingkungannya.
Warga Bicara, Polisi Mendengar
Kepala Desa Katonsari, Mahfud, membuka diskusi dengan mengajak setiap keluarga berperan aktif.
“Awasi anak-anak kita, mulai dari rumah. Jangan sampai mereka terjerumus hal-hal yang bisa merugikan masa depannya,” pesannya.
Namun suara paling tegas datang dari Chairus Sholeh, Kepala Desa Karangmelati. Ia menyoroti maraknya peredaran minuman keras oplosan murah bernama Es Moni yang kini menyusup hingga ke kalangan anak-anak.
“Harganya murah, bisa dibeli siapa saja. Kami resah. Kami minta polisi bertindak lebih tegas,” ujarnya.
Kapolres Ari tak menampik keresahan tersebut. Ia menyebut razia memang sudah dilakukan, namun sanksi hukum yang ringan membuat para pedagang cepat kembali beroperasi.
“Perang melawan Es Moni tidak bisa hanya polisi. Perlu kolaborasi semua pihak. Pemerintah bisa menambah sanksi sosial agar ada efek jera,” tegasnya.
Menolak Provokasi, Menjaga Demak Kondusif
Diskusi malam itu tak hanya soal miras. Kapolres Ari juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Demak yang tidak mudah terprovokasi ajakan demonstrasi anarkis di media sosial.
“Kesadaran masyarakat menjaga kondusifitas adalah modal besar bagi Demak. Itu menunjukkan kita lebih memilih dialog daripada kerusuhan,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Kopi
Ngopi Bareng memang sederhana—hanya secangkir kopi, tikar, dan ruang untuk berbicara. Tetapi justru di situlah letak maknanya: warga merasa dihargai, polisi belajar mendengar. Keamanan tidak lagi dilihat sebagai produk aparat semata, melainkan sebagai hasil gotong royong bersama.
Di Demak, rasa aman kini sedang diracik dengan kopi, percakapan, dan komitmen kolektif untuk saling menjaga. (Ganang)