Independennews.com | Jepara – Alun-alun Jepara pada Selasa malam (19/8/2025) menjelma lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai penjuru tumpah ruah, larut dalam kemeriahan Opening Ceremony Hari Jadi ke-80 Jawa Tengah yang dibuka langsung oleh Gubernur Ahmad Luthfi.
Mengusung tema “Jateng Mapan dan Tumbuh”, perayaan ini bukan sekadar pesta hiburan. Ia menampilkan wajah Jawa Tengah yang guyub, penuh kebudayaan, sekaligus menyimpan harapan rakyatnya.
Sorak-sorai memuncak ketika grup musik NDX AKA naik panggung. Alun-alun yang sesak oleh penonton mendadak berubah menjadi panggung raksasa penuh energi, seakan menegaskan bahwa seni adalah bahasa pemersatu yang melintasi sekat sosial.
Sejumlah tokoh penting turut hadir, di antaranya Sekda Provinsi Jateng Sumarno, Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar, serta para kepala daerah se-Jawa Tengah. Namun, sorotan malam itu tidak semata-mata pada pejabat, melainkan pada gestur sederhana sang Gubernur.
Di tengah kerumunan, Gubernur Ahmad Luthfi spontan membeli dagangan seorang penjual asongan. Botol-botol air mineral itu kemudian ia bagikan gratis kepada masyarakat. Sebuah aksi kecil, namun sarat makna: pemimpin hadir bukan hanya di panggung kehormatan, tetapi juga di tengah rakyat yang haus harapan.
“Jateng hanya bisa tumbuh jika kita bergandengan tangan: pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat. Kebersamaan inilah kekuatan sejati Jawa Tengah,” ujar Gubernur Luthfi dalam sambutannya.
Bagi warga Jepara, pesta rakyat ini lebih dari sekadar hiburan. Sutrisno (42), warga asli Jepara, mengaku bangga daerahnya dipercaya menjadi tuan rumah pembukaan.
“Acara ini meriah sekali, rasanya Jawa Tengah benar-benar hidup. Harapan kami, sesuai temanya, ekonomi mapan, lapangan kerja bertambah, UMKM berkembang, dan ukir Jepara makin diperhatikan,” tuturnya dengan mata berbinar.
Delapan dekade perjalanan Jawa Tengah bukan sekadar angka. Ia adalah rekam jejak panjang dari desa hingga kota, dari tradisi hingga modernitas, dari rakyat hingga pemimpinnya. Dan malam itu, di Jepara, sejarah seolah menyatu dengan denyut nadi warganya—meneguhkan optimisme bahwa Jawa Tengah memang sedang mapan, dan akan terus tumbuh.