IndependenNews.com | Aceh – Aksi pemukulan yang diduga dilakukan oleh oknum polisi kepada pengunjuk rasa yang melakukan demo di DPRA, pada Jumat, 23 Agustus 2024, mendapat kecaman sejumlah tokoh dan politisi.
Dalam video durasi singkat yang beredar memperlihatkan seorang pegunjuk rasa memegang kepalanya yang mengeluarkan darah yang diduga terkena pukulan oleh polisi.
Menanggapi Video tersebut, Anggota DPRA, M Nasir Djamil, menyayangkan dan mengecam aksi pemukulan yang diduga dilakukan oleh Kepolisian kepada pengunjuk rasa. Menurutnya pemukulan dan kekerasan oleh aparat sebenarnya bisa dihindari jika mereka mengedepankan pendekatan dialogis dan humanis.
“Polisi itu pengayom, pelindung, dan juga mengamankan masyarakat. Unjuk rasa itu dilindungi oleh konstitusi. Karena itu saya menyayangkan dan mengecam aksi kekerasan Polisi terhadap pengunjuk rasa yang mengalami luka serius,” ujar politikus PKS ini, Sabtu (24/08/24)
Dia juga menyarankan, Polisi melalui bidang yang terkait dengan situasi di lapangan seharusnya sudah bisa memetakan dan melakukan cooling system, agar unjuk rasa berlangsung tertib, aman dan damai.
“Jikapun ada kalimat atau pernyataan kasar dan keras maka hal itu tentu masih bisa ditoleransi. Cooling system adalah salah satu upaya preventif dari Kepolisian yang berfungsi untuk mendinginkan dan mengamankan unjuk rasa agar mereka tidak anarkis,”ujarnya
Sementara itu, informasi yang dihimpun unjuk rasa di kantor DPRA berakhir ricuh, Polisi terpaksa melakukan upaya paksa untuk membubarkan para demontrans yang bertahan di kantor DPRA hingga Pukul 20.30 WIB. Polisi menembakkan gas air mata agar para pendemo bubar. Namun para demonstran membalas dengan melemparkan benda-benda keras ke arah polisi. (man)