IndependenNews.com | MAJDAL SHAMS – Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan Israel akan membalas tembakan roket dari Lebanon yang menewaskan 12 pemuda di Dataran Tinggi Golan yang dianeksasi Israel. Hal itu menambah kehawatiran bahwa perang di Gaza akan meluas. Iran memperingatkan Israel bahwa “petualangan” militer baru di Lebanon dapat menimbulkan konsekuensi yang tidak terduga.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan roket tersebut dan meminta semua pihak untuk menahan diri secara maksimal. Sementara tentara Israel menyebutnya sebagai serangan paling mematikan terhadap warga sipil Israel, sejak dimulainya perang pada 7 Oktober tahun lalu di Gaza dan memicu baku tembak di perbatasan Lebanon.
Israel menyalahkan gerakan Hizbullah Lebanon yang menembakkan roket Falaq-1 milik Iran, namun kelompok yang didukung Iran, secara teratur menargetkan posisi militer Israel yang mengatakan bahwa mereka “tidak ada hubungannya” dengan insiden tersebut. Namun dikatakan bahwa pihaknya telah menembakkan satu roket pada hari Sabtu ke arah sasaran militer Israel di Golan. Serangan roket di Majdal Shams, penduduknya adalah Druze berbahasa Arab.
Atas peristiwa serangan tersebut, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kembali lebih awal dari Amerika Serikat. Setibanya di sana, dia langsung menghadiri rapat Kabinet keamanan. Dia mengatakan Hizbullah akan membayar dengan harga yang mahal atas serangan tersebut, harga yang belum pernah dibayarnya.
Setelah pertemuan tersebut, kantornya mengatakan: “Para anggota kabinet memberi wewenang kepada perdana menteri dan menteri pertahanan untuk memutuskan cara dan waktu tanggapan terhadap organisasi teroris Hizbullah.” Namun tidak ada rincian lebih lanjut. Kementerian luar negeri Israel mengatakan Hizbullah telah melewati semua garis merah.
“Untuk mengantisipasi pembalasan Israel, Hizbullah mengevakuasi beberapa posisi di dekat perbatasan dan di Lebanon timur, kata sumber yang dekat dengan kelompok tersebut.
Militer Israel mengatakan pada Minggu malam bahwa mereka telah menyerang sasaran Hizbullah, baik jauh di dalam wilayah Lebanon maupun di Lebanon selatan.Sebuah pesawat tak berawak Israel menembakkan dua rudal ke desa Taraiyya di Lebanon timur, menghancurkan hanggar dan sebuah rumah tanpa menimbulkan korban jiwa, kata sumber keamanan Lebanon kepada AFP.
Hizbullah mengatakan serangan lintas perbatasannya merupakan tindakan dukungan terhadap kelompok Islam Palestina dari Hamas yang telah memerangi militer Israel di Gaza sejak 7 Oktober ketika mereka menyerang Israel selatan. Serangan itu mengakibatkan kematian 1.197 orang di Israel, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel.
Militan juga menyandera 251 sandera, 111 di antaranya masih ditawan di Gaza, termasuk 39 orang yang menurut militer tewas.
Atas pembalasan Israel pada serangan tersebut, Mileter Israel telah menewaskan sedikitnya 39.324 orang di Gaza, menurut kementerian kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas, yang tidak memberikan rincian mengenai kematian warga sipil dan militan.
Di kota Khan Younis di Gaza selatan pada hari Minggu, badan pertahanan sipil melaporkan lima orang tewas dalam serangan Israel yang menghantam beberapa tenda yang menampung pengungsi Palestina di zona kemanusiaan.
Militer Israel memerintahkan evakuasi beberapa blok Al-Bureij dan Al-Shuhada di Gaza tengah, memperingatkan bahwa mereka akan beroperasi secara paksa di sana.
Serangan roket di Majdal Shams menghantam lapangan sepak bola dan menewaskan anak-anak yang menurut pemerintah setempat berusia 10 hingga 16 tahun. Polisi Israel mengatakan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun masih hilang. Ribuan penduduk memadati jalan-jalan kota dalam upacara pemakaman yang penuh air mata bagi banyak korban tewas. Sumber :AFP