IndependenNews.com, Humbahas | -Danau Toba adalah danau alami terindah terletak di Sumatera Utara, Indonesia. Danau terbesar yang menyuguhkan keindahan alam yang menakjubkan, bernilai sejarah dan sarat cerita mistis ini terbentuk melalui letusan gunung super volcano beberapa ribu tahun lalu.
Keindahan alam tempat wisata di Indonesia memang sangat mempesona. Terdapat tempat wisata yang memiliki keunikan dan nilai sejarah tersendiri yang membuat para wisatawan tertarik untuk datang. Tidak hanya wisatawan lokal, namun wisatawan asing juga kerap mengunjungi tempat ini.
Namun tahukah kita sebenarnya apa yang terjadi dengan Danau Toba saat ini?
Berdasarkan sejumlah informasi dan bukti yang dihimpun dari berbagai sumber, ternyata volume debit air Danau Toba saat ini terus tergerus. Tak tanggung-tanggung, dalam beberapa tahun terakhir, penurunan debit air sudah mencapai kurang lebih dari 3 meter.
Menurut salah satu warga Kecamatan Baktiraja (Humbahas), Anto Marbun, fenomena penurunan debit air Danau Toba sudah berlangsung dari sejak lama. Ada beberapa bukti yang ditunjukkannya untuk menguatkan pernyataannya. Salah satunya ada sebongkah batu besar yang berada di sekitar Pelabuhan Baktiraja, yang menurut dia, pada beberapa tahun silam masih tenggelam di bawah air. Namun belakangan sudah muncul dan mencuat ke permukaan.
“Itu batunya tuh. Agak besar. Dulu beberapa tahun lalu ini tenggelam. Ga nampak. Sekarang malah sudah bisa kita duduki”, ujar Anton, Jum’at (1/9/2023).
Ditambahkannya, tiang beton yang merupakan tiang penyangga pelabuhan, yang tadinya terbenam hingga hampir separuh, sekarang tinggal beberapa jengkal saja yang terendam air.
Hal itu, kata dia, menjadi bukti yang sangat nyata bahwa ada penurunan debit air Danau Toba yang sangat konkret.
Penurunan debit air Danau Toba ini menurut dia menjadi ancaman tersendiri bagi masyarakat sekitar terutama para nelayan. Ia mengakui kalau dari waktu ke waktu, penurunan debit air sangat berpengaruh juga terhadap ekosistem di dalam Danau, seperti ikan endemik.
“Ada penurunan jumlah tangkapan ikan yang sangat signifikan para nelayan dari Danau. Kalau hanya mengandalkan penangkapan ikan dari Danau sudah sangat sulit akhir-akhir ini, padahal keramba jaring apung (KJA) juga saat ini sudah dibatasi pemerintah “, sambung Anto.
Dampak penurunan debit air Danau Toba ini, imbuh dia, juga terlihat jelas dengan kemunculan Pulau Sitakke di wilayah perairan Danau Toba di Desa Simangulappe. Sebelumnya, menurut dia, Pulau Sitakke jarang terlihat secara kasat mata kecuali pada waktu tertentu saat ombak tenang dan air dalam kondisi bening.
“Namun sekarang coba lihat, Pulau Sitakke makin mencuat. Bahkan rerumputan sudah mulai tumbuh di situ”, tutur dia seraya menunjuk sebuah pulau imut yang berada di tengah danau.
(Tinton)