Istri Meninggal Dunia, Kemelut Guntur Sinaga Makin Kompleks, Tangisnya Menyayat Hati

Foto : Penguburan Istri Guntur Sinaga, tahun lalu yang dimakamkan secara covid 19

IndependenNews.com, Sumut | Momen Valentine Day 14 Februari 2022 semestinya momen penuh kebahagiaan yang dirasakan oleh seorang Anak M (4) Bln yang sudah ditinggalkan sang ibu untuk selamannya. Namun apa daya Guntur Sinaga tak dapat memeluk dan memberikan kasih sayang kepada sibuah hati nya M.

Guntur Sinaga ayah dari balita M, tak dapat memberikan kasih sayang nya kepada putrinya, karena pihak mertuanya Marga Simbolon diduga melakukan penyanderaan Cucu nya M (putri Guntur Sinaga-red) untuk melakukan aksi tukar guling harta gono gini hasil perkawinannya dengan Ibu M yang telah meninggal pada 4 Oktober 2021 lalu.

Merasa Putrinya M dan Harta milik mereka dikuasi mertua, Guntur Sinaga, memutuskan memperjuangkan Putri nya M (4) bln, dengan merasa berat hati, ia membuat laporan ke Kepolisian Polda Sumatera Utara dengan dugaan pasal Tindak Pidana mencabut orang yang belum dewasa dari kuasa yang sah.

Guntur Sinaga (39) Tahun, penduduk Kesawan Medan, kepada Media IndependenNews.com, Rabu (16/2/22) dibilangan kota Medan, sambil seseduh Guntur mulai mengisahkan permasalahan yang tengah dihadapinya, ia mengatakan persoalan yang dihadapinya sangat berat, “bahkan identik dengan pepatah “Dah Jatuh ditimpa tangga pula atau dalam arti Istri sudah meninggal ehh anak pun tak bisa di peluk.

“Ya, entah apa maksud dari mertua ku, sehingga saya dan seluruh barang berharga milik keluarga kecil ku di tahan mertuaku,” kisah nya dengan air mata berlinang.

Sembari menghusap air matannya, Gurtur Sinaga, melanjutkan kisahnya, dirinnya tak menyangka jika rumah tangganya berakhir seperti ini, kepergian sang istrinya tercinta br Simbolon yang telah lebih dahulu dipanggil Tuhan kepangkuannya. Membuat keluarga kecilnya sangat berantakan.

Saat ini, ia bahkan tak bisa memeluk Putrinya karena tidak di bolehkan pihak mertua, atas kepergian Istrinya, Mertua Guntur Sinaga, diduga mencoba mengambil keuntungan dari situasi yang tidak baik itu dari Guntur Sinaga.
Pihak mertua berupaya menggulung asset kel Kecil Guntur Sinaga dengan modus menjadikan putrinya M sebagai sandera alias jaminan untuk tukar-guling .

Dikisahkan Guntur Sinaga, Prahara yang menyelemuti kehidupannya ini dimulai sejak 30 September 2021. Pada saat itu Istrinya Boru Simbolon yang tengah hamil delapan bulan harus dilarikan ke rumah sakit. Akibat virus Covid-19 yang dideritanya, Boru Simbolon kemudian harus melalui tindakan medis atau ‘dibedah’ sebagai langkah penyelamatan anaknya yang kedua.

Boru Simbolon akhirnya harus meninggalkan si bayi Covid-19, yang saat itu bertaruh nyawa di incubator menjalani proses prokes Covid-19 hingga dinyatakan bayi kuning, yang menjadi kisah kepergian ibunya.

Pada Tanggal 4 Oktober 2021 lalu, saat ibunya br Simbolon meninggal, perilaku pihak mertuanya tampak berubah total dari biasannya, hal itu terlihat saat, Jenazah Istri saya harus terkulai lama di Rumah sakit, karena menunggu kedatangan pihak mertua dari rumah, dengan alasan lama mencari pakaian yang digunakan almarhumah ke makamnya.

Hari pun semakin berlalu, usai kepergian Istrinya, situasi sehari-hari dengan mertua dan keluarga lainnya tak menunjukkan persahabatan lagi, sikap dan perilaku yang kerap melukai perasaan.

Melihat situasi yang kurang bersahabat itu, dengan berat hati, Kata Guntur Sinaga, ia berinisiatif untuk meninggalkan rumah atau pisah rumah dari mertuannya.

“Saya mendatangi mertua dan menyampaikan untuk tinggal diluar rumah mertua atau pisah rumah dengan mertua. Semenjak itu pula, situasi semua berubah,” Cetus Guntur Sinaga

Semenjak terungkap, dirinya ingin meninggalkan Rumah Mertuanya, seluruh Isi lemari seperti perhiasan, uang dan surat-surat berharga dan sejumlah bukti kepemilikan barang berharga, sudah tidak ditempatnya lagi, àtau mertua dari Guntur Sinaga, menyandara semua harta yang mereka punya, tidak hanya itu juga termasuk putrinya M.

“Mereka menyandra seluruh harta benda yang kami bangun bersama almarhumah istriku, termasuk putriku M, coba banyangkan bang bagaimana hancurnya hati seorang ayah dipisahkan dari anak kandung nya sendiri,” ujar Sinaga dengan tersedu.

Sulitnya mendapatkan hak asuh Anaknya, dan sisah peninggalan istrinya, Guntur Sinaga mencoba menyelesaikan persoalannya dengan mertuannya Marga Simbolon, melalui komunikasi tingkat penutua adat guna membicarakan di dalam internal penatua adat.

Namun, upaya tersebut juga tak bisa membuahkan hasil, bahkan pelaksanaan musyawarah bersama keluarga dihadapan penatua adat sudah dirancang dan ditetapkan harinya, namun gagal, karena dibatalkan sepihak oleh mertuanya.

Lebih jauh Guntur Sinaga mengisahkan, Duka keluarga ternyata belum berakhir Nopember 2021, Ibu mertua menyusul putrinya di Sorga, rumah mertua terpaksa dikosongkan, karena Covid-19 yang terus menyerang sedangkan putri saya M dibawa keluarga lae (tulangnya) ke kediaman mereka.

“Saat itu perang mulut antara saya dengan tulangnya Maria semakin memanas mereka merasa lebih berkuasa dan lebih perhatian ketimbang saya sebagai ayah kandungnya, yang berjuang memberikan pelayanan kesehatan terbaik buat anak saya,” kisah Guntur kepada Media ini, ketika itu kesehatan M sempat terganggu kala itu.

Lapor LPA dan Polda

Sejak itu Guntur Sinaga dibatasi pihak mertua untuk bertemu putrinya M padahal pengasuhan M merupakan hak dan tanggungjawab nya sebagai ayahnya, termasuk si sulung, abangnya Maria.

“Mereka sangat membatasi hubungan saya dengan boru saya,”cetusnya dengan berlinang air mata.

Mengingat hak asuh anak nya merupakan tanggung jawabnya, kata Guntur Sinaga, kini pikiran buntu dan hampa mulai hilang dari nya Duka berantai keluarga mertua sudah mulai reda dan tinggal kenangan saja. Dia mulai berpikir tentang masa depan kedua buah hatinya.

“M harus berada dalam pengasuhan saya. Masa depannya harus berada di bawah perjuangan saya sebagai ayahnya, bukan di tangan siapa-siapa, termasuk bukan di tangan keluarga mertua. Karena Maria itu Boru Sinaga, bukan Boru Simbolon,” tegasnya dengan menghirup udara segar ia tampak sedikit lega

Karena berbagai upaya keluarga tidak menemui jalan tengah, akhirnya Guntur mengadukan persoalan yang dihadapinya kepada Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Medan, yang disambut ketuanya Alihot Sinaga.

Tidak sampai di situ, di hari valentine (kasih sayang), akhirnya Guntur Sinaga terpaksa melaporkan Ayah mertuanya ke Polda Sumatera Utara dengan STTLP/284/II/2022/SPKT/Polda Sumatera Utara, Tanggal 14 Februari 2022. SN-R.

Guntur Sinaga Berharap Anak nya bisa diraihnya untuk dibesarkannya dengan hasil keringatnya sendiri. (GS)

You might also like